Ciuman anak-anak?

Mencium adalah bentuk dari kasih sayang, dan banyak anak-anak mencium orang lain untuk menunjukkan rasa sayangnya. Anak-anak suka dicium karena itu artinya ada seseorang yang peduli dan memperhatikan mereka. Mencium Papa, Mama, Kakek, Nenek dan anggota keluarga lainnya adalah hal yang dapat diterima dan wajar, tapi Anda mungkin tidak mau anak atau siswa Anda mencium temannya di kelas atau tempat bermainnya.

Ketika hal ini terjadi, jangan panik!! Lakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengajar anak Anda bahwa ada saat dan tempat untuk mencium orang lain.

CIUMAN ANAK-ANAK

Anak-anak sering melihat orang dewasa mencium dan banyak di antara mereka menerima ciuman dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Hal ini membuat mereka berpikir bahwa ciuman adalah suatu hal yang wajar dan sesuatu yang orang lakukan untuk menunjukkan cinta. Maka tidak heran jika ada anak yang mencium anak lainnya di temoat bermain (atau mungkin juga di kelas).

Kebanyakan kasus yang melibatkan anak balita, ciuman yang diberikan adalah murni dan cara sederhana untuk menunjukkan bagaimana ia sangat peduli dan sayang pada temannya. Menurut Jaringan Kesahatan Wanita dan Anak Internasional, tidak perlu kuatir berlebihan ketika Anda melihat ada anak yang mencium temannya (atau saling mencium), tapi mereka perlu diajak bicara. Dia perlu tahu (apalagi jika dia sudah menginjak ora remaja) bahwa ada batasan dalam menunjukkan kasih sayang pada orang lain di luar anggota keluarga. 

BAHAYA MENCIUM

Anak-anak, seperti juga orang dewasa, memiliki kuman. Ketika meteka mencium orang lain, mereka memindahkan kuman-kuman itu. Mereka bisa tertular atau menukarkan virus flu atau bahkan penyakit serius lainnya.

Ketika anak-anak saling mencium, mereka bisa saling mentransferkan virus yang dapat membuat mereka sakit demam, atau bahkan penyakit parah lainnya. Virus itu mungkin tidak membuat anak lain sakit, tapi setiap orang memiliki imun atau daya tahan tubuh yang berbeda.

EFEK LAIN MENCIUM

Untuk anak-anak yang masih sangat kecil, ciuman di pipi atau bahkan di bibir merupakan hal biasa. Kebanyakan anak-anak tidak mengaitkan antara ciuman dan seksualitas. Bagi mereka mencium hanyalah cara sederhana menunjukkan pada teman bahwa ia peduli. 

Namun, jika anak menginjak usia pra remaja dan remaja, Anda perlu bicara serius jika mereka mencium anak lainnya. Karena pada usia tersebut, anak sudah menginjak pubertas dan mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis.

Karena mencium seringkali berhubungan dengan perilaku seksual, maka jika Anda guru, Anda perlu bicara dengan orang tua anak yang bersangkutan jika menemukan hal ini terjadi di kelas Anda.

Jika Anda adalah orangtua, maka Anda perlu bicara pada anak-anak anda mengenai apa yang dapat diterima dan yang tidak. Misalkan, Anda bisa mengatakan bahwa ciuman singkat di pipi dapat di terima, tapi tidak ciuman di bagian tubuh yang lain. Atau mungkin Anda dapat mengatakan bagaimana memberikan perhatian dan kasih sayang tanpa harus mencium.

TIPS DAN PERTIMBANGAN

Jika anak-anak Anda masih usia taman kanak-kanak atau kelas-kelas awal Sekolah Dasar, Anda cukup bicara mengenai siapa saja yang dapat ia cium dan siapa yang tidak. Jangan membuat anak-anak berpikir ia dalam masalah karena nantinya ia akan mengira mencium adalah sesuatu yang buruk (juga jangan membohongi anak dengan lelucon berbau seksualitas seperti “awas lho, nanti kalau dicium bisa hamil”. Ini sangat TERLARANG).

Katakan pada anak-anak bahwa mencium hanyakah untuk anggota keluarga. Mereka bisa memberi pelukan atau tos (high five) untuk menunjukkan kepedulian dan kasih sayang pada teman mereka.

Ajari mereka untuk tidak membiarkan seorang pun menyentuh anggota tubuh mereka tanpa ijin dari mereka, dan pastikan Anda, orang tua atau guru, merupakan orang pertama yang mereka datangi ketika mereka mersa tidak nyaman dengan sentuhan teman-teman mereka. 

Jika ada anak yang datang pada Anda dan menceritakan bahwa mereka dicium paksa atau dipaksa mencium orang lain yang tidak mereka inginkan, jangan memarahi mereka dan yakinkan anak-anak Anda bahwa mereka tidak salah, kemudia cari siapa saja yang terlibat sehingga Anda dapat menyelesaikan masalah dengan baik.

Advertisements

Mengajar di Era Digital

Mengajar di era digital tentu berbeda dengan mengajar pada era sebelumya. Kini teknologi memungkinkan siswa mendapatkan seluruh pengetahuan yang ada di dunia bahkan tanpa perlu pergi ke sekolah, hanya bertekad kemauan dan inisiatif dari siswa saja. Bahkan keahlian pun dapat dipelajari melalui internet. Buka saja youtube dan Anda bisa mempelajari banyak skill tanpa repot-repot harus les atau mendaftar kursus.

Teknologi seolah menjadi pesaing berat sekolah dalam banyak hal. Tidak percaya? Mari kita lihat beberapa keunggulan “teknologi” dibanding sekolah:

Metoda Pembelajaran Seragam vs Kustomisasi

Sekolah kebanyakan (terutama di Indonesia) menekankan pembelajaran seragam untuk seluruh siswanya. Seluruh siswa harus mengikuti pelajaran yang sama tanpa terkecuali. Suka tidak suka, seluruh siswa harus belajar mengenai seni, matematika, bahasa, fisika, biologi dan banyak lagi. Bukannya bertujuan meningkatkan kecerdasan, kini sekolah justru sibuk dengan mengejar target akademis.

Bandingkan dengan teknologi yang menyediakan banyak informasi dan mengakomodir keingintahuan siswa dengan lebih mendalam (bahkan lebih mendalam dari apa yang diajarkan di sekolah). Siswa yang tertarik dengan biologi misalnya, dapat dengan mudah mengunduh banyak sekali sumber dari berbagai negara untuk memperkaya pengetahuannya dan memuaskan ketertarikannya.

Guru sebagai Ahli vs Sumber Pengetahuan yang BERAGAM

Di sekolah, guru adalah sumber dari informasi yang bertugas meneruskan informasi yang dimilikinya kepada siswa. Mereka adalah pemilik otoritas yang (kebanyakan) tidak suka jika otoritasnya ditantang dengan banyak pertanyaan-pertanyaan dari siswa. Tidak jarang kita melihat guru yang mencoret jawaban siswa yang sebenarnya benar, hanya karena tidak mengikuti cara yang diajarkan guru.

Bandingkan dengan apa yang dapat diperoleh melalui dunia maya. Ada banyak video dari para ahli yang dapat diunduh dengan mudah. Bahkan ada banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan siswa yang mungkin tidak dapat dijawab oleh guru-guru di sekolah.

Mengerjakan dengan “kepala” vs menggunakan “alat bantu”

Ada suatu keyakinan dari guru-guru (dan orang tua) bahwa jika ingin menguasai sesuatu, maka siswa harus melakukannya sendiri tanpa alat bantu (misal kalkulator atau kamus). Lihat saja menjamurnya tempat-tempat les berhitung yang menuntut anak-anak dapat berhitung cepat di luar kepala.

Bedakan dengan apa yang sebenarnya terjadi di “dunia nyata” di mana kecerdasan seseorang tergantung dari kemampuannya menggunakan alat bantu untuk menyelesaikan pekerjaan yang dimilikinya.

Standar Penilaian vs Spesialisasi

Di sekolah, seluruh penilaian memiliki standarnya sendiri. Setiap siswa harus mengisi pilihan ganda, atau essay, atau apapun bentuk soal yang sama untuk seluruh siswa, di mana hasilnya merupakan nilai yang obyektif dan dinilai adil untuk seluruh siswa. Itulah sebabnya seluruh siswa perlu belajar hal yang sama. Sementara teknologi mendorong siswa untuk mencari tahu dan menguasai materi-materi yang hanya menjadi minatnya saja.

Penguasaan Materi vs Ledakan Pengetahuan

Di sekolah, siswa dituntut untuk menguasai pengetahuan yang ‘mungkin’ dibutuhkannya untuk kehidupan. Mereka dituntut untuk menghafal dan menguasai materi di luar kepala. Namun pengetahuan terus bertambah dan buku pelajaran akan makin tebal dan tebal seiring dengan pertambahan pengetahuan.

Dengan ledakan pengetahuan yang demikian pesat, manusia tidak mungkin mempelajari semua hal di sekolah yang akan berguna di kemudian hari. Siswa perlu belajar bagaimana caranya belajar sesuatu yang baru dan bagaimana menggali informasi dan sumber yang mereka perlukan.

 

Sekolah perlu menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi, namun yang perlu diingat adalah, transfer ilmu pengetahuan BUKANLAH tujuan utama PENDIDIKAN. Dalam era digital, di mana hubungan antar manusia merenggang dan life skill semakin menurun, tugas utama sekolah adalah MENCERDASKAN anak-anak agar mereka siap untuk menjadi MANUSIA SEUTUHnya.

Masalah kecerdasan sudah sering dibahas oleh banyak sumber. Anda pasti pernah mendengar mengenai kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence). Seringkali pembahasan mengenai kecerdasan majemuk hanyalah seputar “anak-anak kita memiliki kecerdasan berbeda, jangan hanya menilai mereka dari nilai matematikanya saja”.

Sebenarnya BUKAN ITU inti dari KECERDASAN MAJEMUK. Kecerdasan majemuk adalah jenis-jenis kecerdasan yang HARUS dimiliki setiap orang untuk dapat bertahan hidup. Sebenarnya kecerdasan majemuk ini sudah ada dalam materi-materi pelajaran di sekolah, sayangnya, hanya berupa tuntutan akademis yang seringkali kehilangan maknanya.

Sebenarnya kecerdasan majemuk perlu dilatih agar siswa dapat:

  1. Kecerdasan logika agar siswa dapat memecahkan permasalahan dalam kehidupan dengan sistematis dan logis.
  2. Kecerdasan bahasa agar siswa dapat berkomunikasi dengan benar, dengan bahasa yang sopan dan pantas.
  3. Kecerdasan visual agar siswa dapat lebih peduli dan memperhatikan lingkungan sekitarnya.
  4. Kecerdasan musik agar siswa dapat lebih peka dengan ‘suara-suara alam’ dan ‘ritmik kehidupan’
  5. Kecerdasan olah tubuh agar siswa dapat menjaga keseimbangan, kesehatan dan kebugaran tubuhnya.
  6. Kecerdasan natural agar siswa dapat bertanggungjawab dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.
  7. Kecedasan Interpersonal agar siswa dapat menguasai diri, berdamai dengan dirinya dan menerima dirinya apa adanya.
  8. Kecerdasan Intrapersonal agar siswa dapat menjalin hubungan / relasi yang sehat dengan setiap orang yang ada di sekitarnya.
  9. Kecerdasan eksistensial agar siswa dapat menyadari keberadaan dirinya merupakan anugerah dari Sang Pencipta dan mensyukuri setiap hal yang dia miliki dalam hidup

Bukankah semua hal itu penting dalam kehidupan? Bukankah itu seharusnya tujuan dari “pergi ke sekolah setiap hari”, agar anak-anak siap menghadapi “dunia luar”?

Sekolah bukanlah sekedar tempat untuk transfer ilmu! Jika memang begitu, maka sekolah sudah KALAH TELAK dari teknologi di era digital ini. Sekolah adalah tempat di mana siswa belajar menjadi cerdas dalam arti siap menjadi MANUSIA yang SEUTUHnya.

Mendidik bukanlah sekedar melakukan transfer ilmu! Jika memang begitu, maka guru sudah KALAH TELAK dengan teknologi di era digital ini. Pendidik adalah mereka dengan perencanaan matang yang menerapkan teori prinsip mengajar dan teori perkembangan anak untuk menyampaikan materi ajar dan menguasai kelas yang bertujuan mengubah PERILAKU anak didik secara positif (Levin dan Nolan).

Ini adalah era digital! Sekolah adalah tempat kedua di mana anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya. Jika sekolah tidak menggunakan waktu yang banyak itu untuk “mengubahkan perilaku” (dengan kata lain membina karakter) anak, maka sekolah akan menjadi suatu tempat yang tidak berguna.

 

Nantikan tulisan berikutnya: Mengajar Sekolah Minggu di Era Digital

Membesarkan Anak di Era Digital

Era digital tidak hanya mempengaruhi anak-anak, tapi juga orang dewasa. Itu sebabnya tidak hanya ada perbedaan antara “anak-anak jaman dahulu” dan “anak-anak sekarang”, tapi juga ada perbedaan antara “orang tua jaman dahulu” dan orang tua sekarang”, juga “guru-guru jaman dahulu” dan “guru-guru sekarang”. Semua orang terkena imbas dari majunya teknologi yang demikian pesat.

Orang tua di era digital menggunakan teknologi seperti TV, smartphone, komputer, dan tablet untuk “mengelola” kehidupan keluarga dan untuk mengasuh anak-anak mereka. Ketika anak-anak tumbuh dewasa, orang tua dan anak-anak memiliki jumlah tatap muka yang sangat sedikit, bahkan mereka memiliki kualitas hubungan yang lebih rendah dibanding era sebelumnya.

Berikut adalah beberapa hal yang harus diketahui orang tua terlebih dahulu: Continue reading

Anak-anak di Era Digital

“Anak-anak sekarang berbeda dengan anak-anak dahulu”

Tahukah Anda apa yang mendasari perbedaan yang terjadi? Mereka (dan juga kita saat ini) hidup di jaman digital. Seandainya kita hidup sejak kecil di jaman digital, dapat dipastikan bahwa kita akan menjadi sama seperti ‘anak-anak sekarang’.

Era digital adalah suatu masa di mana perkembangan teknologi demikian pesat dan pengetahuan dapat diperoleh dengan mudah baik dalam bidang ekonomi maupun sosial.

Anak-anak yang tumbuh pada era digital ini memiliki banyak pengalaman belajar dan bermain dengan teknologi baru seperti iPod, iPad, telepon pintar, facebook, dan banyak lagi. Tapi, hal yang mengkhawatirkan adalah, mereka kehilangan banyak jenis pembelajaran yang lain, interaksi fisik, dan kecerdasan emosi.

Dalam artikel kali ini kita akan membahas apa yang terjadi dengan anak-anak ini (dalam artikel berikutnya, kita akan membahas mengenai bagaimana mengajar anak-anak ini):

1. Anak-anak tidak lagi suka main di luar

Hopscotch

Anak-anak lebih suka main di dalam rumah sambil memegang peralatan elektronik mereka, duduk di depan komputer atau video games. Negara-negara Barat sudah menyadari hal ini dan pemerintah mereka berinvestasi begitu besar agar guru-guru dapat memotivasi siswa mereka untuk bermain di luar seperti petak umpet, hopscotch (permainan jingkat).

Ada banyak keuntungan jika anak mau main keluar dan menggunakan fisiknya. Mereka akan semakin sehat, lebih bahagia dan tidak akan mengalami kegemukan.

Di Indonesia, kita melihat masih banyak anak-anak di daerah pinggiran yang bermain keluar. Mereka bermain sepeda dan berlarian di jalan. Berbeda dengan “anak-anak kota” yang dibelikan gadget oleh orang tuanya.

2. Anak-anak tidak lagi belajar dengan Interaksi tatap muka

Bagaimana seorang bayi belajar berekspresi atau menunjukkan emosinya? Bagaimana mereka belajar bicara dan bahasa? Mereka melakukannya dengan mempelajari ekspresi wajah orang tuanya dan mereka mulai belajar menjadi mahluk sosial ketika mereka masuk PAUD dan sekolah.

Tapi apa yang terjadi sekarang?

Orang tua di era digital sibuk dengan peralatan elektroniknya dan tidak dapat diganggu. Mereka bahkan tidak ada waktu untuk melihat, tersenyum atau bercanda dengan anak-anak mereka sendiri! Lihatlah keluarga di restoran dan Anda akan melihat apa yang kami maksud.

Peringatan ini telah diberikan oleh banyak dokter anak. Salah satunya, Dr. Jenny Radesky, melakukan studi pada 55 kelompok orangtua ketika mereka makan di restoran cepat saji. Dia dan timnya menghabiskan musim semi melakukan observasi ini dan hampir semua orang tua perlu diingatkan untuk menjauhkan smartphone mereka dan memberikan perhatian pada anak-anak mereka. Hal ini sangat penting untuk perkembangan anak-anak.

3. Hubungan Orang tua-Anak Menjadi Renggang

Orang tua digital menganggap sepele peran orang tua dan ini tidak adil bagi anak-anak. Penggunaan peralatan elektronik memiliki dampak sangat buruk terhadap interaksi orang tua dengan anak. Orang tua beranggapan bahwa alat elektronik dapat menjadi substitusi mereka saat anak-anak butuh interaksi dan ini tidak baik. Selain itu, orang tua juga menjadi mudah marah ketika kegiatannya dengan peralatan elektronik mereka diinterupsi.

Dr. Wendy Sue Swanson, seorang dokter anak dari Rumah Sakit anak Seattle menganjurkan pada orang tua untuk membuat batasan dengan peralatan digital sehingga peran orang tua dapat dilakukan dengan baik. Demikian juga anak-anak harus dijauhkan dari peralatan elektronik yang membuat mereka lebih ‘menyayangi’ peralatan itu dibanding orang tua mereka.

4. Kemampuan Membaca Anak terpengaruh

Memang tidak banyak penelitian mengenai hal ini, tapi sebuah studi dilakukan oleh West Chester University menunjukkan bahwa anak yang membaca buku dengan kertas lebih memiliki pemahaman yang baik dari apa yang dibaca dibandingkan dengan anak yang membaca e-book. Anak yang membaca e-book cenderung membaca dengan melompat-lompat dan mudah teralihkan perhatiannya pada popups atau aplikasi lain.

5. Anak-anak tidak pernah bermain permainan papan (board games)

Hampir sepanjang waktu anak-anak di era digital bermain dengan games online. Apa yang terjadi dengan permainan papan (halma, monopoli, catur)? Ada banyak keuntungan ketika orang tua dan anak-anak memainkan permainan papan bersama:

  • Anak-anak belajar berhitung, matematika, membaca dan kosakata baru.
  • Orangtua dapat memiliki keterikatan dengan anak-anak
  • Anak belajar mengenai giliran, menerima kekalahan dan mengatasi kemenangan
  • Anak-anak akan lebih percaya diri, dan penghargaan pada dirinya meningkat
  • Anak-anak diajar mengenai kompetisi yang positif
  • Konsentrasi anak terlatih
  • Meningkatkan fokus dan perhatian anak

Walaupun banyak permainan dan aplikasi online di smarthone yang baik untuk membangun dan mengajar anak, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan interaksi manusia dengan manusia.

6. Anak-anak tidak tahu apa artinya persahabatan yang sejati

Ketika kita tumbuh, kita memiliki teman-teman, teman-teman yang nyata dan sebenarnya. Teman-teman virtual tidak benar-benar ada. Maksudnya, mereka ada tapi tidak terlihat ketika kita berkomunikasi. Kita tidak benar-benar mengenal kebanyakan dari teman-teman yang ada di facebook. Sebagian besar dari mereka hanya temannya teman yang kebetulan mengadd kita menjadi teman. Berkoneksi itu bagus dan hari ini, seorang remaja rata-rata mengirimkan 3000 pesan tertulis setiap bulannya.

TAPI… kelihatannya konsep pertemanan dan kedekatan menjadi berubah drastis dan hal ini kemudian akan sangat mempengaruhi HUBUNGAN. Penelitian di UCLA menunjukkan bahwa keterikatan digital sangat lemah, dibanding dengan interaksi tatap muka.

7. Anak-anak kehilangan kreativitas mereka

Trevor Baylis

Trevor Baylis, penemu Wind-Up Radio mengatakan bahwa ia takut anak-anak sekarang kehilangan kreativitasnya karena menghabiskan banyak waktunya di depan layar daripada mencoba segala sesuatu yang baru dengan tangan mereka.  Dia berkata mengenai merangkai / merakit sesuatu seperti moel aeroplane, dst. Anak-anak di era digital tidak pernah lagi memainkan permainan merakit seperti ini. Segala sesuatu sudah tersedia untuk mereka langsung gunakan.

8. Anak-anak tidak belajar EMPATI

Bertoleransi, memperhatikan dan mengendalikan emosi adalah life skill yang harus dikuasai dengan baik. Tapi anak-anak di era digital tidak mempelajari life skill ini sama sekali. Kita tidak bisa berempati dengan peralatan elektronik (setidaknya belum bisa). Cara terbaik untuk mempelajari life skill ini adalah bermain dengan anak-anak lain, dan belajar berbagi, menunggu giliran dan memberi. Apakah ada aplikasi untuk mempelajari itu?

9. Anak-anak tidak belajar mengenai nilai dan sikap

Kurangnya interaksi sosial yang sebenarnya dengan orang tua dan teman berarti mereka makin sedikit belajar tentang nilai-nilai dasar kehidupan seperti toleransi, kebaikan, kejujuran, kerajinan dan rasa hormat. Peralatan Elektronik baik untuk aktivitas belajar tapi hubungan orangtua-anak menjadi sangat lemah.

10. Anak-anak kurang tidur

Anak-anak di era digital ‘kehilangan waktu’ ketika mereka online. Mereka tidak ingat waktu , seolah-olah waktu terbuang begitu saja dengan percuma. Beda ketika mereka melakukan pekerjaan rumah tangga. Hal ini juga akan mempengaruhi mood mereka dan mereka menjadi mudah marah ketika diminta mematikan peralatan elektronik. Salah satu aspek yang paling serius adalah pengaruhnya di sekolah pada keesokan harinya.

11. Anak-anak kehilangan kemampuan logika dan bahasa

Anak-anak era digital memiliki keahlian luar biasa dalam seni dan hiburan, tapi kemampuan logika dan bahasa mereka tidak terlatih sama sekali. Mereka tidak dapat memahami perlunya berusaha untuk mendapatkan hasil, juga tidak dapat menemukan hubungan sebab akibat dari suatu permasalahan kehidupan yang terjadi.

Pertemanan secara virtual membuat mereka tidak dapat membedakan bagaimana cara berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau seumuran dengan mereka. Sementara orang tua atau guru di era digital merasa kehabisan waktu untuk mengajari hal semacam itu.

12. Anak-anak kecanduan online

Anak-anak di era digital seolah-olah tidak dapat hidup jika mereka tidak online. Bagaimana PR dapat dikerjakan tanpa melihat google? Atau bagaimana mengerjakan PR jika tidak bertanya pada teman lewat Whatsapp. Atau bagaimana menghabiskan waktu jika tidak memainkan permainan online.

Orang tua perlu berhati-hati dengan kecanduan ini. Mereka (orang tua) perlu menjadi teladan dan menjaga agar aktivitas online dan “tradisional” tetap terjaga dengan baik.

Ada beberapa tips untuk menjalankan keseimbangan ni:

  • Gunakan video call BERSAMA-SAMA untuk menghubungi nenek atau kakek
  • Mainkan video games BERSAMA-SAMA
  • Negosiasikan waktu istirahat BERSAMA antara orang tua dan anak dari peralatan elektronik (matikan semua peralatan elektronik atau simpan di tempat terpisah)
  • Main di luar ruangan BERSAMA-SAMA.

 

Era Digital tak dapat dihentikan dan peralatan digital adalah alat yang sangat baik untuk belajar dan hiburan. TAPI mereka perlu digunakan dengan HIKMAT dan KEHATI-HATIAN dan tidak untuk menggantikan interaksi tatap muka.

Berikutnya kita akan membahas:

  • Bagaimana menjadi orang tua di era digital
  • Bagaimana menjadi guru di era digital

Jadi, SUBSCRIBE blog ini yaa…!

 

diolah dari berbagai sumber

 

 

Tingkat Kemampuan Anak berdasarkan Usia (ed 3)

Setelah membahas kemampuan anak sampai usia 7 tahun, hari ini kita akan melanjutkan bahasan kita mengenai tingkat kemampuan anak berdasarkan usianya. Kita sudah belajar tingkat kemampuan anak usia 8 – 10 tahun. Deskripsi di bawah ini dapat membantu Saudara dalam menyiapkan kelas, materi, craft, ataupun games untuk anak-anak usia 8 – 10 tahun di kelas Saudara.

  • Tujuan pengajaran untuk anak usia 8 – 10 tahun adalah:
    • Penerimaan diri; belajar tentang kekuatan dan talenta
    • Berteman; belajar tentang bagaimana bersama dengan orang lain
    • Memahami bahwa setiap orang berbeda – menerima perbedaan
  • Mulai belajar tentang peran mereka dalam masyarakat, tanggungjawab dalam keluarga, teman-teman

  • Pembaca pemula – mampu membaca dan memahami informasi
    • Belajar untuk membuka dan membaca Alkitab
    • Mampu menyalin ayat dari Alkitab ke buku teks
    • Mampu menjawab pertanyaan tertulis dengan jawaban singkat
    • Bermain permainan menyusun kata
    • Belajar menuliskan paragraf dan membuat laporan lisan
  • Belajar melakukan tugas-tugas dengan tipe berbeda baik di rumah maupun sekolah
  • Dapat memainkan permainan kelompok yang kompleks, bahkan yang kompetitif (sepak bola, voli, basket)
  • Memiliki keahlian motorik yang baik
    • Sangat baik bekerja dengan gunting dan lem
    • Dapat melakukan pekerjaan detil dan proyek craft yang lebih detil
    • Dapat belajar pelajaran dasar menjahit, merajut, memasak, membuat kue
    • Dapat belajar menggunakan palu, obeng, gergaji, dll
  • Dapat bermain teka-teki kata dan permainan angka
  • Dapat mengingat kitab-kitab dalam Alkitab, nama-nama murid dll
  • Dapat mengingat bagian panjang dalam Alkitab (contoh: Mazmur 23, Doa Bapa Kami)
  • Belajar untuk bermain sendiri maupun kelompok
  • Dapat mulai memahami sejarah Alkitab
  • Pesan Rohani yang harus disampaikan:
    • Pesan keselamatan
    • Kita dapat menerima Yesus sebagai Juruselamat
    • Tuhan mengasihimu dan orang lain juga
    • Tuhan mengetahui seluruhnya tentang kamu dan mengasihi kamu apa adanya
    • Tuhan memiliki rencana yang luar biasa dalam hidupmu
    • Tuhan tidak akan pernah meninggalkan atau melupakanmu
    • Kamu dapat mempercayai Tuhan
    • Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Hadir
    • Tidak ada yang dapat kamu lakukan yang dapat membuat Tuhan MAKIN mencintaimu atau KURANG mencintaimu
    • Yesus adalah satu-satunya jalan
    • Kita diselamatkan karena Kasih Karunia (karena Tuhan begitu baik), dan bukan karena usaha kita (atau apa yang kita lakukan).
    • Kamu dapat bersaksi mengenai kasih Tuhan dan apa yang Tuhan lakukan dalam hidupmu.