Separation Anxiety

Kecemasan akan perpisahan adalah rasa takut atau tertekan yang bisa terjadi pada anak-anak dan orang dewasa saat mereka memikirkan akan berpisah dari rumah atau dari orang-orang yang menjadi tempat mereka bersandar.

Definisi

Kecemasan akan perpisahan mengacu pada rasa takut atau kecemasan yang berlebihan tentang perpisahan dari rumah atau figur yang dijadikan panutan atau tempat bersandar. Pada diagnosis sebelumnya, kecemasan akan perpisahan hanya terjadi pada anak-anak atau remaja di bawah usia 18 tahun. Diagnosis sekarang menunjukkan Kecemasan akan perpisahan ini dapat terjadi pada semua tahap kehidupan.

Kecemasan akan perpisahan adalah tahap normal dalam perkembangan bayi. Ini salah satu alasan bagi para orang tua untuk membantu anak-anak mereka belajar menguasai lingkungan mereka. Kecemasan ini biasanya berakhir pada sekitar usia 2, ketika balita mulai mengerti bahwa orang tua mungkin tidak terlihat sekarang tapi akan kembali nanti. Hal yang perlu diperhatikan dari gangguan kecemasan akan perpisahan adalah karena kecemasan yang berlebihan ini dapat mempengaruhi tingkat perkembangan seseorang.

Anak-anak dengan gangguan kecemasan akan perpisahan mungkin bergantung pada orang tua mereka secara berlebihan, menolak untuk tidur terpisah, enggan untuk menghadiri perkemahan atau tidur di rumah teman, atau meminta untuk ditemani saat harus pergi ke ruangan lain walau tetap di dalam rumah. Anak-anak juga sering mengalami gejala fisik saat mereka tahu akan terjadi (atau sudah terjadi) perpisahan, seperti sakit kepala, mual dan muntah. Orang dewasa dengan gangguan ini mungkin merasa tidak nyaman saat bepergian seorang diri, mengalami mimpi buruk saat berpisah dengan figur tempatnya bergantung, atau terlalu kuatir pada keberadaan anak-anak atau pasangan mereka sehingga terus-menerus memeriksa keberadaan mereka.

Saat pemisahan terjadi, anak-anak mungkin tampak menarik diri, sedih, atau sulit berkonsentrasi pada pelajaran atau permainan. Beberapa mungkin takut pada hewan, monster, pencuri, perampok, penculik, perjalanan pesawat terbang, atau situasi lain yang dianggap berbahaya. Beberapa orang menjadi sangat rindu bila berpisah dari sosok tempat mereka bersandar, berapapun usianya. Pengalaman gangguan kecemasan akan perpisahan seringkali membuat frustrasi anggota keluarga dan bisa menimbulkan perselisihan dan konflik dalam keluarga.

Gangguan kecemasan akan perpisahan adalah gangguan kecemasan yang paling umum pada anak-anak di bawah usia 12 tahun dan merupakan kondisi yang sama-sama umum baik untuk anak laki-laki atau perempuan.

Gejala

Gejala gangguan kecemasan pemisahan meliputi:
  • Kelesuan yang berlebihan saat berpisah dari rumah atau sosok figur
  • Khawatir kehilangan atau bahaya datang ke sosok figur
  • Kekhawatiran berlebihan tentang mengalami kejadian negatif yang tak terduga (tersesat, menjadi sakit) yang menyebabkan perpisahan dari sosok figur
  • Penolakan untuk meninggalkan rumah, sekolah, pekerjaan, atau tempat lain karena takut berpisah
  • Ketakutan terus-menerus untuk berada sendiri atau tanpa sosok figur di rumah atau di tempat lain. Pada anak-anak, ini mungkin terlihat seperti “menempel”, atau tetap dekat dengan orang tua di sekitar rumah.
  • Penolakan atau keengganan untuk tidur jauh dari rumah atau tidur tanpa tanda keterikatan di dekatnya
  • Mimpi buruk yang melibatkan tema pemisahan dari rumah atau sosok figur yang terdekat.
  • Keluhan fisik berulang seperti sakit kepala dan mual saat sudah terjadi atau akan terjadi

Hal yang harus dipertimbangkan pada gangguan kecemasan akan perpisahan adalah bahwa gejala ini harus ada setidaknya empat minggu pada anak-anak dan remaja dan enam bulan atau lebih pada orang dewasa. Selain itu, gejala ini baru dapat dikatakan gangguan ketika menyebabkan kerusakan fungsi sekolah, sosial, pekerjaan atau pribadi akibat kegelisahan.

Penyebab

Kecemasan akibat perpisahan dari sosok figur merupakan bagian normal pada perkembangan awal, terutama pada beberapa tahun pertama kehidupan. Kecemasan menjadi bermasalah saat itu terlihat berlebihan mengingat tingkat perkembangan seseorang, dan bila hal itu menyebabkan beberapa bentuk disfungsi dalam kehidupan seseorang.

Meskipun penyebab gangguan kecemasan akan perpisahan tidak diketahui, beberapa faktor risiko telah diidentifikasi. Gangguan kecemasan akan perpisahan umumnya berkembang setelah seseorang mengalami tekanan  seperti kehilangan. Kehilangan ini mungkin adalah kematian orang yang dicintai atau hewan peliharaan, perubahan sekolah, perceraian orang tua, atau semacam bencana yang memisahkan seseorang dari orang yang dicintai untuk jangka waktu tertentu. Selain itu, memiliki orang tua yang terlalu protektif  bisa menyebabkan gangguan kecemasan akan perpisahan.

Sementara ini, faktor genetik / keturunan yang mengakibatkan gangguan kecemasan akan perpisahan belum ditemukan walau penelitian telah menunjukkan bahwa kondisi ini mungkin dapat diwariskan.

Perawatan

Untuk mengatasi perasaan kecemasan akan perpisahan, seorang anak harus mengembangkan rasa aman yang memadai di lingkungan mereka, juga kepercayaan pada orang lain selain orang tua mereka, dan percaya bahwa orang tua akan kembali setelah perpisahan sementara.

Untuk anak-anak dan orang dewasa yang lebih tua, perawatan yang efektif dapat mencakup psikoterapi, perubahan teknik pengasuhan untuk remaja (dan untuk orang dewasa yang cemas dengan anak-anak), dan obat anti-kecemasan. Pengobatan untuk kasus tertentu mungkin melibatkan pendidikan keluarga dan terapi keluarga.

Untuk anak yang lebih muda, ada tindakan yang bisa dilakukan oleh orang tua atau pengasuh:

  • Usahakan menjadwalkan keberangkatan setelah tidur siang dan waktu makan karena anak Anda akan lebih rentan terhadap kecemasan perpisahan saat lelah, lapar, atau sakit.
  • Siapkan anak Anda sebelum pemisahan terjadi dengan meyakinkan mereka bahwa Anda akan kembali.
  • Perlakukan cemas dengan serius dan bereaksilah dengan penuh pengertian, kesabaran, dan keyakinan: “Mama tahu kamu tidak ingin Mama pergi sekarang, tapi Mama akan kembali sepulang sekolah.” Jangan menggoda: “Kamu bodoh banget sih, begitu saja menangis.” Jangan terdengar kesal: “Kamu membuat Mama merasa sangat marah saat kamu menangis seperti itu!”
  • Tetap tenang dan bersimpati: “Saya tahu kamu marah karena Mama harus pergi ke dapur, tapi Mama perlu memasak makan malam.”
  • Ciptakan perasaan aman untuk balita Anda dengan memberi banyak cinta dan perhatian. Anak-anak kecil belajar lebih cepat ketika mereka menerima perhatian dan kasih sayang yang diperlukan daripada oleh orang tua yang menerapkan metoda”Anak harus belajar dari kesulitan”.
  • Berlatihlah pemisahan jangka pendek di sekitar rumah. Saat Anda pergi ke kamar sebelah tidak terlihat, bicaralah dengan anak Anda: “Ke mana Mama pergi?” Ketika Anda kembali, beritahu dia: “Ini Mama!” Pemisahan berulang ini bisa membantu anak Anda mengetahui bahwa kepergian Anda hanya sementara.
  • Jangan menyelinap atau diam-diam menjauh dari anak Anda. Pendekatan ini hanya akan membawa pada lebih banyak kesulitan pada saat Anda pergi.
  • Pertahankan kendali atas kecemasan Anda sendiri. Jika anak Anda merasakan atau melihat kesusahan Anda saat pergi, itu akan mengatakan kepadanya bahwa pasti ada sesuatu yang salah.

—–

diterjemahkan dari:
https://www.psychologytoday.com/conditions/separation-anxiety

Advertisement

Bagaimana mengatasi anak yang gelisah

Ketika anak-anak menjadi sangat cemas, bahkan orang tua yang paling baik pun bisa jatuh ke dalam siklus negatif. Menghindarkan anak-anak dari hal yang mereka cemaskan, justru malah memperburuk kecemasan mereka di kemudian hari. Hal itu terjadi saat orang tua, mengantisipasi ketakutan anak, berusaha melindunginya dari mereka. Inilah petunjuk untuk membantu anak-anak lolos dari lingkaran kegelisahan.

  1. Ingat, tujuan utamanya bukan untuk menghilangkan kecemasan, tapi untuk membantu anak mengelolanya.
    Tak satu pun dari kita ingin melihat anak tidak bahagia, tapi cara terbaik untuk membantu anak mengatasi kegelisahan bukanlah dengan mencoba menghilangkan stres yang memicunya. Namun membantu mereka belajar menoleransi dan mengelola kegelisahan sebaik mungkin, bahkan saat mereka cemas. Dan sebagai hasil sampingan dari itu, kegelisahan akan menurun atau bahkan hilang seiring waktu.
  2. Jangan menyingkirkan hal-hal hanya karena membuat anak cemas.
    Membantu anak-anak menghindari hal-hal yang mereka takutkan akan membuat mereka merasa lebih baik dalam jangka pendek, tapi ini memperkuat kecemasan dalam jangka panjang. Jika seorang anak dalam situasi tidak nyaman menjadi kesal, mulai menangis (bukannya saya bersikap manipulatif, tapi memang karena begitulah perasaannya) dan orang tuanya sering mencoba menenangkannya, atau menyingkirkan hal yang dia takuti. Akhirnya anak akan tahu bahwa begitulah mekanisme penanganannya, dan kemudian siklus itu memiliki potensi untuk terus berulang.
  3. Ekspresikan harapan yang positif tapi realistis.
    Anda tidak bisa menjanjikan seorang anak bahwa ketakutannya tidak akan terjadi – bahwa dia tidak akan gagal dalam ujian, bahwa dia akan bersenang-senang berseluncur es, atau anak lain tidak akan menertawakannya selama pertunjukannya. Tapi Anda bisa mengungkapkan keyakinan bahwa dia akan baik-baik saja, dia akan bisa mengelolanya, dan karena itu, saat dia menghadapi ketakutannya, tingkat kecemasan akan turun seiring berjalannya waktu. Ini memberi keyakinan bahwa harapan Anda realistis, dan Anda tidak akan memintanya melakukan sesuatu yang tidak dapat dia tangani.
  4. Hormati perasaannya, tapi jangan menuruti apa yang mereka inginkan.
    Penting untuk dipahami bahwa validasi tidak selalu berarti kesepakatan. Jadi jika seorang anak takut pergi ke dokter karena dia akan disuntik, sebaiknya Anda tidak meremehkan ketakutannya, tapi  juga jangan memperkuatnya. Anda sebaiknya mendengarkan dan bersikap empati, bantu dia mengerti apa yang dia cemaskan, dan dorong dia untuk merasa bahwa dia bisa menghadapi ketakutannya. Pesan yang sebaiknya Anda sampaikan adalah, “Saya tahu kamu takut, dan tidak apa-apa untuk takut, tapi saya di sini, dan saya akan membantu kamu melewati ini.”
  5. Jangan mengajukan pertanyaan tertutup.
    Dorong anak Anda untuk membicarakan perasaannya, tapi cobalah untuk tidak mengajukan pertanyaan-pertanyaan tertutup (pertanyaan dengan jawaban ya/tidak) “Apakah Anda cemas dengan tes besar itu? Apakah Anda khawatir tentang sains itu?”. Untuk menghindari ‘memberi makan’ pada kegelisahan, tanyakan pertanyaan terbuka:” Bagaimana perasaan Anda tentang sains yang adil?”
  6. Jangan memperkuat ketakutan anak.
    Apa yang jangan sampai Anda lakukan adalah mengatakannya, dengan nada suara atau bahasa tubuh Anda: “Mungkin ini adalah sesuatu yang seharusnya Anda takuti.” Katakanlah seorang anak memiliki pengalaman negatif dengan seekor anjing. Lain kali dia berada di sekitar seekor anjing, Anda mungkin cemas tentang bagaimana dia akan merespons, dan Anda mungkin secara tidak sengaja mengirim pesan bahwa dia seharusnya khawatir.
  7. Dorong anak untuk mentolerir kecemasannya.
    Biarkan anak Anda tahu bahwa Anda menghargai usaha mereka mentolerir kecemasan agar bisa melakukan apa yang dia inginkan atau yang perlu dilakukan. Ini akan benar-benar mendorong mereka untuk terlibat dalam kehidupan dan membiarkan kegelisahan menjadi sebuah kurva alami. Kami menyebutnya “kurva habituasi” – akan turun seiring berjalannya waktu karena dia terus berhubungan dengan apa yang membuatnya gelisah. Mungkin tidak turun menjadi nol, mungkin tidak akan turun secepat yang Anda mau, tapi begitulah cara kita mengatasi kegelisahan kita.
  8. Usahakan menyingkat periode antisipasi.
    Saat kita takut ketika akan melakukan sesuatu, saat yang paling sulit adalah tepat sebelum kita melakukannya. Jadi aturan praktis lain untuk orang tua atau guru adalah benar-benar berusaha menghilangkan atau mengurangi masa antisipatif ini. Jika anak merasa gugup saat pergi ke dokter, Anda sebaiknya tidak memulai diskusi tentang hal itu dua jam sebelum Anda pergi; itu mungkin membuat anak Anda lebih gelisah. Jadi usahakan memperpendek periode itu seminimal mungkin.
  9. Pikirkan bersama dengan anak.
    Terkadang membantu untuk berbicara tentang apa yang akan terjadi jika ketakutan seorang anak benar-benar terwujud dan bagaimana dia akan menanganinya? Seorang anak yang sangat gelisah ketika harus berpisah untuk sementara waktu dari orang tuanya mungkin khawatir akan apa yang akan terjadi jika mereka tidak datang menjemputnya. Jadi kita bicara tentang itu. Jika ibumu tidak datang pada akhir latihan sepak bola, apa yang akan Anda lakukan? “Baiklah, saya akan mengatakan kepada pelatih bahwa ibu saya tidak ada di sini.” Dan menurut Anda apa yang akan dilakukan pelatih? “Yah, dia akan menelepon ibuku. Atau dia akan menungguku. ” Seorang anak yang takut orang asing dikirim untuk menjemputnya bisa mendapat kode dari orang tuanya bahwa siapa pun yang mereka kirim akan mengetahui kode tersebut. Bagi beberapa anak, memiliki rencana dapat mengurangi ketidakpastian dengan cara yang sehat dan efektif.
  10. Cobalah menggunakan cara sehat dalam mengatasi kecemasan.
    Ada banyak cara untuk membantu anak mengatasi kecemasan dengan membiarkan mereka melihat bagaimana Anda mengatasi kecemasan Anda sendiri. Anak-anak adalah mahluk yang cepat tanggap, dan mereka akan menangkap kecemasan Anda ketika Anda terus mengeluh di telepon kepada seorang teman sehingga kelihatannya Anda tidak dapat mengatasi stres atau kecemasan. Saya tidak mengatakan untuk berpura-pura bahwa Anda tidak memiliki stres dan kecemasan, tapi biarkan anak-anak mendengar atau melihat Anda mengelolanya dengan tenang, menoleransi, dan merasa senang ketika bisa melewatinya.

diterjemahkan dari: https://childmind.org/article/what-to-do-and-not-do-when-children-are-anxious/

Permasalahan Perilaku pada Balita

Balita yang sulit diatur bisa menjadi permasalahan serius. Memberi penjelasan tidak terlalu berguna dan menghukum malah akan membuat perilakunya semakin buruk. Jadi kita harus bagaimana? Teruslah membaca sampai akhir untuk mendapatkan tips bagaimana menghadapi masalah perilaku pada balita dan bagaimana Anda dapat membantu mereka.

Suka Menginterupsi

Anak kecil cenderung bersemangat dan tidak dapat mengendalikan keinginan mereka untuk mengatakan apa yang ingin mereka katakan. Mereka terus mengganggu Anda sepanjang waktu. Jadi, lain kali Anda sedang bicara dengan anak Anda yang berusia tiga tahun, inilah yang harus Anda lakukan.

  • Biarkan mereka menyelesaikan apa yang ingin mereka katakan. Dengarkan mereka tanpa menginterupsi dan kemudian bicaralah saat mereka sudah selesai bicara.
  • Saat mereka menyela, jelaskan bagaimana mama (atau papa) tidak memotong dan mendengarkan saat mereka berbicara. Katakan kepada mereka bahwa mereka akan mendapat kesempatan untuk berbicara setelah Anda selesai. Katakan, “Tunggu sampai mama selesai, sayang” atau “Mama belum selesai bicara, lho.”

Suka Berteriak-teriak

Balita, terutama mereka yang berusia kurang dari tiga tahun, tidak dapat mengekspresikan dirinya secara verbal. Mereka cenderung menunjukkan kemarahan atau frustrasinya dengan cara yang berbeda, termasuk menjerit. Jadi, apa yang harus kita lakukan saat balita berteriak-teriak?

  • Jangan berteriak atau balas berteriak pada mereka. Jika kita ikut berteriak, mereka hanya akan berpikir bahwa tidak apa-apa berteriak atau menjerit-jerit.
  • Ajarkan mereka untuk berbisik atau berbicara dengan tenang, melalui sebuah permainan. Misalnya, Anda bisa mulai dengan ‘ayo lihat siapa yang bisa menjerit paling keras’, lalu coba ‘sekarang siapa yang bisa bicara dengan tenang atau berbisik’.
  • Coba pahami perasaan mereka dan bicaralah pada mereka. Meskipun sulit bicara dengan anak berusia satu tahun, namun kata-kata bisa menenangkan anak itu, dan mereka mungkin berhenti menjerit.

Berlari-lari

Apakah anak Anda melarikan diri dan bersembunyi saat dia marah? Atau hanya sekedar berlari menjauh di mana pun mereka berada? Berlari bisa jadi berbahaya, terutama jika dia melakukannya di jalan, supermarket atau tempat umum lainnya. Tapi Anda bisa membuatnya tetap aman dengan:

  • Tetap awasi gerakan anak-anak. Selalu pegang tangannya saat di jalan atau tempat ramai lainnya.
  • Tunjukkan di mana dia bisa berlari dan dimana dia tidak bisa. Jelaskan dengan menunjukkan orang-orang di sekitar Anda dan apa yang mereka lakukan. Misalnya, dengan menunjuk   anak-anak berlari di taman untuk mengatakan bahwa tidak apa-apa untuk berlari ke sana. Begitu juga, menunjukkan bagaimana orang tidak berlari di jalanan.
  • Jelaskan apa yang Anda harapkan. Katakan “ingat, kau harus selalu memegang tangan Mama (atau Papa) saat kita di luar rumah”

Menarik rambut anak lain

Balita mungkin cenderung menjerit, menendang dan menarik rambut orang lain untuk merasa lebih baik atau memperbaiki keadaan. Satu-satunya cara untuk membuat mereka menghentikan perilaku seperti itu adalah membuat mereka mengerti bahwa hal-hal tersebut tidak akan membuat mereka merasa lebih baik dan tidak akan memperbaiki keadaan apapun.

  • Cegah anak Anda saat dia menarik rambutnya atau orang lain untuk menunjukkan bahwa dia seharusnya tidak melakukannya.
  • Bicarakan dan coba jelaskan bahwa menarik rambut orang lain adalah sesuatu yang buruk.
  • Jangan menarik kembali rambut anak Anda untuk menunjukkan bagaimana rasanya. Mereka mungkin melihatnya sebagai permainan dan melakukannya lagi.

Melempar barang-barang

Anak-anak berusia antara 18 bulan dan tiga tahun adalah mereka yang biasanya membuang atau melempar barang untuk menunjukkan rasa frustrasinya. Mereka cenderung membuang makanan, mainan, atau apapun yang bisa mereka dapatkan hanya karena ingin tahu atau frustrasi.

  • Untuk menghindari kerusakan barang berharga, tunjukkan apa yang bisa dilemparkan anak Anda. Seperti bola, mainan goyang atau yang berbulu yang tidak rusak.
  • Cegah mereka dari melempar barang saat mereka marah atau agresif. Cobalah untuk mengabaikan saat mereka melempar barang karena marah. Jika mereka bertahan atau terus melempar hal-hal yang bisa menyakiti anak-anak lain, hentikan segera dan katakan “Tidak! Itu buruk “atau” Tidak, itu menyakitkan!”. Katakan itu dengan suara tenang.
  • Temukan cara untuk mencegah mereka melempar barang. Misalnya, di mobil, Anda bisa mengikat mainan itu ke tempat duduknya. Dengan cara itu dia tidak akan bisa membuangnya.

Lalu bagaimana mengatasinya?

“Mengapa anak-anak bisa menjadi begitu menyebalkan?”

Anda bukanlah satu-satunya orang yang pernah menanyakan hal tersebut. Anak nakal bisa membuat orang tua (atau pembina, atau orang dewasa lainnya) stres. Kami telah mengumpulkan beberapa tip dan trik yang dapat membantu Anda menangani perilaku buruk atau mengganggu pada anak-anak.

  • Jangan bereaksi berlebihan. Bila Anda bereaksi atau merespons perilaku buruk anak Anda, Anda  justru mendorongnya untuk terus melakukan perilaku buruknya.
  • Tetap positif. Bila Anda menganggap anak Anda sebagai masalah, Anda tidak dapat menemukan cara yang efektif untuk mengatasi tingkah lakunya. Fokuslah pada meluruskan perilaku mereka.
  • Konsisten dalam reaksi atau respons terhadap perilaku anak Anda. Yang lebih penting, konsisten dalam konsekuensinya saat di rumah. Beri tanggapan yang sama terhadap perilaku mereka, dan akhirnya, mereka akan memahaminya.
  • Terkadang, boleh saja mengubah peraturan, mengubah kebiasaan lama yang mungkin sudah lepas kendali. Misalnya, mengurangi waktu TV, waktu bermain video atau aktivitas lainnya disarankan demi kebaikan anak.
  • Jadilah panutan. Ubah dulu perilaku buruk Anda sebelum mengubah perilaku anak-anak Anda. Anak-anak dari segala usia belajar dengan mengamati dan meniru Anda karena mereka berasumsi bahwa orang tua mereka tahu yang terbaik.
  • Disiplin perlu dilakukan, namun harus secara efektif. Anda perlu memikirkan dengan baik sebelum menentukan akibat dari perilaku buruk anak-anak Anda.
  • Bersantai. Jangan terlalu khawatir tentang teriakan, argumentasi, dan pembangkangan yang biasa.
  • Gunakan grafik perilaku atau grafik hadiah untuk membuat anak Anda senang membiasakan diri dengan perilaku baik. Anda dapat membuat satu grafik untuk perilaku tertentu atau beberapa perilaku. Anda juga bisa memiliki bagan tata krama yang bagus yang memiliki rincian seperti “Katakan terimakasih atau tolong”, “membantu ibu mengerjakan tugas”, “menunggu giliran saya untuk berbicara” dll.

Perilaku anak yang abnormal

Anak-anak adalah “mahluk yang imut”. Bahkan ketika mereka marah, orang dewasa akan tetap menyebutnya imut. Beberapa kemarahan, kenakalan, tantrum, berdebat dengan orang dewasa, membangkang bukanlah perilaku abnormal dari seorang anak, namun ketika hal tersebut sudah menjadi kebiasaan dan terjadi berulang, orang tua perlu waspada… Mungkin anak Anda membutuhkan penanganan khusus.

Guru dan guru sekolah minggu sangat dibutuhkan masukannya ketika menjumpai anak-anak di kelas yang konsisten dalam perilaku abnormal. Semuanya dengan tujuan agar kita bisa membesarkan generasi masa depan yang takut akan Tuhan.

Beberapa gejala perilaku abnormal yang mungkin dialami anak-anak adalah:

  • Anak-anak yang mengalami kesulitan mengelola emosinya. Dia sering mengalami ledakan emosi dari hal-hal kecil mengganggunya.
  • Menunjukkan perilaku impulsif, yaitu mereka mungkin menampilkan perilaku destruktif seperti memukul, melempar benda, menjerit, dll.
  • Anak-anak yang banyak bicara tiba-tiba seperti menarik diri ke dalam cangkang, lalu berbicara kembali dan bersikap kasar tanpa alasan.
  • Anak-anak yang sering berbohong. Terbiasa untuk mencuri atau mengambil barang yang bukan milik mereka.
  • Bolos atau sengaja terlambat datang ke sekolah karena memiliki masalah di kelas.
  • Tidak normal bagi seorang anak (biasanya perempuan) jika pertengkaran atau konflik yang dialami dengan temannya menjadi alasan untuk menarik diri dan mempengaruhi kehidupan sosialnya.
  • Tidak dapat fokus pada satu hal, menjadi gelisah, sangat malas atau bingung.
  • Memiliki perilaku seksual yang tidak sesuai usia.
  • Anak Anda mengabaikan instruksi Anda dan tidak peduli pada disiplin yang Anda terapkan. Dia mungkin menentang peraturan hanya untuk menantang Anda.
  • Memiliki perilaku menyakiti diri mereka sendiri atau bahkan berpikir untuk menyakiti diri sendiri. Jadi, jika mereka melukai diri sendiri secara fisik dan memiliki kecenderungan bunuh diri, Anda harus khawatir.

Perilaku abnormal minor dapat dikoreksi melalui terapi perilaku dan perubahan gaya asuh. Namun ada kelainan perilaku  pada anak yang perlu ditangani dengan usaha yang lebih besar. Di bawah ini adalah beberapa perilaku anak dan bagaimana menanganinya:

Anak yang tidak hormat dan suka membantah

Ketika anak Anda yang berusia tiga tahun membantah Anda, hal itu mungkin tampak lucu dan menggemaskan. Tapi ketika anak perempuan berusia tujuh tahun berteriak ‘tidak’ setiap kali Anda menyuruhnya melakukan sesuatu, itu bisa mengganggu Anda. Jika tidak ditangani dengan baik, perilaku suka membantah bisa menimbulkan argumentasi berkepanjangan antara orang tua dan anak.

Apa yang bisa Anda lakukan?

  • Jika anak Anda membantah tapi melakukan apa yang Anda perintahkan, hargai bahwa mereka melakukan apa yang Anda minta, walau mereka tidak menginginkannya. Namun kemudian Anda perlu bicara padanya. Katakan bahwa marah itu tidak apa-apa, tapi tidak boleh berbicara dengan tidak hormat pada orang tua atau otoritas.
  • Jika anak Anda membantah dan isi dari bantahan tersebut bersifat ancaman untuk menyakiti orang lain atau diri sendiri, maka Anda perlu memperhatikan apa yang mereka katakan dan menanganinya dengan hati-hati. Jangan menanggapinya secara impulsif.
  • Tunggu mereka tenang, lalu ulangi apa yang mereka tadi katakan. Katakan pada mereka perilaku mana saya yang dapat diterima dan mana yang tidak. Tetapkan batasan dan buat mereka sadar akan konsekunsinya.
  • Jangan melakukannya dengan ancaman, cukup beritahu bahwa jika mereka terus membantah, mereka tidak akan emndapat es krim, atau tidak dapat menonton TV.

Akhirnya, Anda perlu melakukan introspeksi, apakah Anda juga suka mengancam dan berkata-kata kasar atau tidak sopan saat berada di dekat anak Anda.

Bahasa Kasar

Anak-anak seringkali berteriak ketika mereka marah. Namun Anda benar-benar harus menaruh perhatian ketika anak Anda memaki. Mereka mungkin memaki agar Anda melakukan apa yang mereka inginkan atau agar mereka memenangkan sebuah pertengkaran. Jika anak Anda mulai memaki atau mengeluarkan bahasa kasar, ini yang harus Anda lakukan:

  • Pastikan Anda tidak menggunakan bahasa seperti itu di depan anak-anak. Jika memang Anda pernah melakukannya, akui bahwa Anda pun melakukan kesalahan dan Anda akan bersama-sama belajar untuk tidak mengucapkan makian atau kata kasar lagi.
  • Tidak ada toleransi terhadap pelecehan verbal dalam sebuah keluarga. Tidak ada alasan untuk menyumpahi atau mengutuki orang lain. Jadi jika mereka melakukannya, ada konsekuensinya.
  • Jelaskan konsekuensinya dan pastikan mereka menanggungnya di bawah pengawasan ketika melanggar batasan. Misal, ketika anak Anda berkata kasar, dia harus diam di kamar selama dua jam misalkan, pastikan yang bersangkutan tidak dapat melarikan diri dari konsekuensi itu.
  • Jika balita Anda yang melakukannya, segera koreksi dan katakan bahwa itu adalah “kata yang buruk” dan tidak sepantasnya diucapkan kepada orang lain. Katakan pada mereka jika orang lain tidak menyukai kata itu dan tidak menyukai anak-anak yang mengucapkan kata seperti itu.

Jika Anda pernah memaki anak Anda dengan bahasa kasar atau menyumpahi mereka, segeralah minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulanginya lagi.

Perilaku agresif dan suka kekerasan

Anak-anak boleh marah, tapi jika kemarahan itu menjadi kekerasan atau berubah menjadi perilaku agresif, itu menjadi masalah. Gangguan mood, psikosis, kelainan, trauma, impulsif atau frustrasi dapat menyebabkan agresi pada anak kecil. Kadang, anak Anda mungkin menggunakan kekerasan untuk membela diri.

Agresi / kekerasan juga bisa menjadi perilaku yang dipelajari oleh anak. Bagaimana lingkungan di rumah? Atau apakah anak itu belajar melakukan kekerasan di sekolah? Jika anak Anda cenderung bereaksi terhadap respons negatif dengan memukul, menggigit atau menendang, inilah yang harus Anda lakukan:

  • Cara termudah untuk merespons agresi pada anak adalah dengan berteriak pada mereka. Tapi jika Anda melakukannya, Anda akhirnya mengajari mereka hal yang salah. Anak-anak mencontoh perilaku Anda, bagaimana Anda mengendalikan dorongan dan emosi. Jadi, daripada meninggikan suara Anda, turunkan nada dan katakan pada mereka untuk tenang.
  • Akui perasaan mereka, kemudian berempatilah, tapi jelaskan bahwa memukul atau menendang atau menggigit tidak diperbolehkan. Anda bisa mengatakan sesuatu seperti “Saya tahu kamu sedang marah. Tapi kita tidak menggigit, memukul atau menendang saat kita marah. Kita tidak boleh memukul saat kita marah!”
  • Katakan pada mereka apa konsekuensinya jika mereka bersikap kasar. Jika Anda berurusan dengan anak yang lebih muda, beritahu mereka apa yang bisa mereka lakukan sebagai gantinya. Beri mereka alternatif, misalnya, ajarkan mereka untuk menggunakan kata-kata dan ungkapan seperti “Saya marah,” atau “Saya tidak menyukainya,” atau “Saya tidak senang dengan itu” saat mereka marah, alih-alih beralih ke kekerasan fisik.

Yang terpenting, jadilah panutan yang baik dan hindari memberikan hukuman fisik. Juga, berikan penghargaan ketika mereka berhasil tidak melakukan kekerasan saat sedang marah.

Berbohong

Adalah hal yang biasa ketika anak-anak berbohong. Hal yang biasa juga ketika orang tua menjadi khawatir saat mendapati anak mereka berbohong. Anda mungkin merasa dikhianati, terluka dan bahkan bertanya-tanya apakah Anda bisa mempercayai anak itu lagi. Tapi inilah yang harus Anda lakukan untuk mencegah anak Anda berbohong.

  • Jangan masukkan ke hati. Pikirkanlah dari sudut pandang anak Anda untuk memahami apa yang memaksa dia untuk berbohong.
  • Anak-anak mungkin berbohong ketika mereka takut bahwa kebenaran mungkin memiliki konsekuensi negatif.
  • Lebih baik memberi penghargaan positif ketika anak Anda berani jujur daripada menghukum perilaku negatif mereka.
  • Ajari mereka untuk jujur. Mulailah dengan menjadi panutan.
  • Tetapkan sebuah konsekuensi untuk berbohong. Tidak ada diskusi lagi ketika anak Anda kedapatan berbohong. Anak Anda berbohong, dia harus bisa mengatasi konsekuensinya

Bullying (Intimidasi)

Bullying adalah masalah serius dan bisa mengakibatkan pelecehan emosional dan fisik pada korban. Anak cenderung mengintimidasi orang lain agar merasa memiliki kekuasaan. Selain itu, mengintimidasi orang lain terkadang bisa mengatasi masalah sosial dengan mudah. Ketika seorang anak mengalami kesulitan mengendalikan emosi / perasaan, mereka cenderung melihat bahwa bully adalah jalan keluarnya. Jika Anda mendapati bahwa anak Anda telah melakukan intimidasi terhadap orang lain, Anda harus segera bertindak:

  • Mulailah mengajari anak-anak Anda sejak usia dini bahwa intimidasi itu salah. Yang lebih penting, jelaskan kepada mereka apa atau siapa ntimidasi itu dan berikan contoh tentang apa yang dilakukan orang yang suka mengganggu / melakukan intimidasi. Misalnya, Anda bisa mengatakan, “Pengganggu adalah seseorang yang kejam pada orang lain atau suka merebut milik orang lain secara paksa.”
  • Tetapkan aturan dan standar di rumah sejak dini. Buat pernyataan seperti “Tidak ada intimidasi di rumah ini” atau “Kamu pasti dihukum jika memiliki perilaku seperti itu di rumah ini”.
  • Hati-hati dengan tanda-tanda intimidasi: lihat apakah anak-anak Anda yang lebih tua mencoba untuk mengintimidasi anak yang lebih muda, dan segera perbaiki perilaku tersebut.

Manipulasi

Manipulasi itu rumit dan perilaku yang sangat melelahkan untuk ditangani. Anak cenderung berpura-pura, berbohong, atau menangis untuk mendapatkan apa yang mereka inginkan. Jika Anda menyerah pada perilaku buruk anak-anak, anak Anda merasa dirinya benar. Misalnya, jika anak Anda mengamuk di depan umum untuk membeli permen dan Anda membelinya, dia baru saja memanipulasi Anda.

Dengan kata-kata sederhana, ketika anak Anda memanipulasi Anda, dia memiliki kekuasaan atas Anda. Sebagai orang dewasa, Anda selalu bisa mengubah perilaku ini dan tidak kalah pada perilaku manipulatif anak Anda.

  • Tunggu anak Anda untuk melawan setiap kali Anda mengatakan ‘tidak’. Dengan begitu, Anda bisa memikirkan bagaimana menangani perilaku mereka dan tidak jatuh karena manipulasi.
  • Jelaskan bahwa ketika Anda mengatakan ‘tidak’, itu berarti tidak. Anda bisa memberi mereka penjelasan singkat tentang posisi Anda, bahwa Anda orang tua yang memiliki otoritas atas mereka.
  • Hindari diskusi, tapi jangan menutup kemungkinan adanya diskusi. Cobalah untuk mendengarkan argumen mereka selama anak tersebut bersikap hormat dan tidak kasar.

Kurang motivasi dan malas

Anak Anda sepertinya tidak tertarik untuk melakukan apapun sama sekali. Baik itu tugas sekolah, latihan seni atau musik atau bahkan bermain, dia menolak untuk berpartisipasi. Memotivasi anak memang tidak mudah, terutama jika mereka malas dan cenderung mencari alasan untuk tidak melakukan apapun. Bila putra atau putri Anda tidak termotivasi, berikut adalah cara membantu mereka.

  • Jangan terlalu cemas dengan tingkah laku anak anda. Bila Anda melakukannya, Anda mungkin terlihat ambisius, dan itu bisa mendorong mereka untuk semakin menolak Anda.
  • Anda dapat menceritakan kisah-kisah tentang masa kecil Anda dan berbagi pengalaman Anda untuk menginspirasi dan mendorong mereka untuk mencoba sesuatu yang baru.
  • Jangan memaksa anak Anda untuk memiliki hobi tertentu. Beri mereka pilihan dan biarkan mereka memilih. Anak-anak lebih tertarik pada sesuatu yang mereka pilih.
  • Ambil langkah mundur dan periksa: apakah Anda memaksa anak Anda untuk melakukan sesuatu? Tanyakan apa yang anak Anda inginkan dan apa yang memotivasi dia? Lihatlah anak Anda sebagai sebuah individu untuk mengidentifikasi apa yang memotivasi mereka.
  • Cobalah untuk menemukan cara agar anak-anak Anda termotivasi dengan sendirinya. Motivasi diri lebih kuat daripada didorong oleh orang lain.

Masalah perilaku di sekolah

“Saya benci sekolah!” Apakah itu sesuatu yang dikatakan anak Anda yang berusia 5 tahun setiap pagi? Anak-anak sering menyulitkan orang tua dengan menolak pergi ke sekolah atau menyelesaikan pekerjaan rumah tepat pada waktunya. Anak-anak dapat menolak bersekolah karena berbagai alasan: intimidasi, masalah akademis, penolakan terhadap otoritas dan peraturan, atau kecemasan akan terpisah dari orang tua.

  • Mulailah dengan menemukan akar masalahnya. Cari tahu mengapa anak Anda membenci sekolah atau menolak mengerjakan pekerjaan rumahnya. Anda mungkin ingin membantunya mengerjakan pekerjaan rumahnya jika dia bermasalah dengan hal itu.
  • Anak Anda mungkin perlu waktu untuk menyesuaikan diri secara akademis dan beradaptasi dengan lingkungan sekolah. Pahami bahwa perubahan itu tidak akan terjadi dalam semalam.
  • Tawarkan hadiah, bukan sogokan, untuk mendorong perilaku positif. Misalnya, Anda bisa mengatakan, “Kamu mendapat es krim malam ini karena telah mengerjakan PR tanpa disuruh”. Hadiah diberikan sesudah mereka melakukan sesuatu, sementara sogokan sebelumnya.

Beberapa masalah perilaku tidaklah mudah untuk ditangani. Anda harus mencari bantuan profesional dalam kasus yang rumit.

Kapan harus mendapatkan bantuan

Jika kelakuan abnormal menjadi sesuatu yang tidak terkendali di rumah, atau jika anak Anda melakukan kesalahan berulang kali, mungkin saatnya Anda harus menemui profesional. Mungkin ada alasan lain di balik perilaku abnormal seorang anak.

Profesional akan melihat kesehatan fisik dan mental anak sebelum merekomendasikan pengobatan, terapi khusus atau konseling.

 

Mengenal Masalah Perilaku Anak: Conduct Disorder (CD)

“Conduct Disorder” (Gangguan Perilaku) mengacu pada sekelompok masalah perilaku dan emosional pada anak-anak dan remaja. Anak-anak dan remaja dengan gangguan ini memiliki kesulitan besar mengikuti peraturan dan berperilaku dengan cara yang dapat diterima secara sosial. Mereka sering dilihat oleh anak-anak lain, orang dewasa dan agen sosial sebagai “buruk” atau nakal, daripada memiliki penyakit mental.

Banyak faktor yang dapat menyebabkan anak mengalami gangguan perilaku, termasuk kerusakan otak, pelecehan anak atau kelalaian, faktor genetik, kegagalan sekolah, kemiskinan dan pengalaman hidup traumatis.

 

Anak-anak atau remaja dengan gangguan perilaku dapat menunjukkan beberapa perilaku berikut:

Melakukan penyerangan terhadap manusia dan hewan

  • mengganggu, mengancam atau mengintimidasi orang lain
  • sering melakukan perkelahian fisik
  • menggunakan senjata yang dapat menyebabkan cedera fisik yang serius pada orang lain (misalnya tongkat pemukul, batu, botol pecah, pisau atau pistol)
  • secara fisik kejam terhadap orang atau binatang
  • mencuri dari korban saat melakukan penyerangan
  • memaksa seseorang untuk melakukan aktivitas seksual

Penghancuran Properti

  • sengaja terlibat dalam kebakaran dengan maksud untuk menyebabkan kerusakan
  • sengaja menghancurkan milik orang lain

Melakukan kecurangan, berbohong, atau mencuri

  • menghancurkan bangunan, rumah, atau mobil orang lain
  • melakukan kebohongan untuk mendapatkan barang, atau kesenangan atau untuk menghindari kewajiban
  • mencuri barang tanpa menghadapi korban (misalnya mengutil, tapi tanpa melanggar dan masuk)

Melakukan pelanggaran berat terhadap aturan yang ada

  • sering menginap di malam hari meski tidak mendapat ijin orang tua
  • lari dari rumah
  • sering membolos dari sekolah

Anak-anak yang menunjukkan perilaku ini harus mendapat penanganan secara komprehensif oleh seorang profesional yang berpengalaman dalam menangani kesehatan mental. Banyak anak dengan conduct disorder mungkin memiliki gangguan perilaku lain seperti gangguan mood, kecemasan, PTSD, penyalahgunaan zat, ADHD, masalah belajar, atau gangguan pemikiran yang juga bisa diobati. Penelitian menunjukkan bahwa anak-anak dengan conduct disorder cenderung mengalami masalah jika mereka dan keluarga mereka tidak menerima perawatan dini dan komprehensif. Tanpa perawatan, banyak anak muda dengan conduct disorder tidak dapat beradaptasi dengan tuntutan masa dewasa dan terus memiliki masalah dengan hubungan dan pekerjaan. Mereka sering melanggar hukum atau berperilaku  antisosial.

Pengobatan anak dengan conduct disorder bisa menjadi sulit, rumit dan menantang. Pengobatan dapat diberikan dalam berbagai cara bervariasi tergantung pada tingkat keparahan perilaku. Sikap tidak bersahabat, tidak mempercayai orang dewasa, dan ketakutan anak-anak semakin menambah kesulitan dari penanganan masalah ini. Dalam mengembangkan rencana penanganan yang komprehensif, seorang psikiater anak dan remaja dapat menggunakan informasi dari anak, keluarga, guru, masyarakat (termasuk sistem hukum) dan spesialisasi medis lainnya untuk memahami penyebab gangguan tersebut.

Terapi perilaku dan psikoterapi biasanya diperlukan untuk membantu anak mengekspresikan dan mengendalikan kemarahan secara tepat. Pendidikan khusus mungkin dibutuhkan bagi anak-anak dengan ketidakmampuan belajar. Orangtua sering membutuhkan bantuan ahli dalam merancang dan melaksanakan program pengelolaan dan pendidikan khusus di rumah dan di sekolah. Program perawatan berbasis rumah seperti Terapi Multisistemik efektif untuk membantu anak dan keluarga. Pengobatan juga dapat mencakup pengobatan pada beberapa anak muda, seperti orang-orang dengan kesulitan memperhatikan, masalah impuls, atau mereka yang mengalami depresi.

Pengobatannya membutuhkan waktu yang cukup lama karena menetapkan sikap dan pola perilaku yang baru membutuhkan waktu. Namun, perawatan dini memberi anak kesempatan yang lebih baik untuk perbaikan yang cukup dan harapan akan masa depan yang lebih sukses.

Mengajar di Era Digital

Mengajar di era digital tentu berbeda dengan mengajar pada era sebelumya. Kini teknologi memungkinkan siswa mendapatkan seluruh pengetahuan yang ada di dunia bahkan tanpa perlu pergi ke sekolah, hanya bertekad kemauan dan inisiatif dari siswa saja. Bahkan keahlian pun dapat dipelajari melalui internet. Buka saja youtube dan Anda bisa mempelajari banyak skill tanpa repot-repot harus les atau mendaftar kursus.

Teknologi seolah menjadi pesaing berat sekolah dalam banyak hal. Tidak percaya? Mari kita lihat beberapa keunggulan “teknologi” dibanding sekolah:

Metoda Pembelajaran Seragam vs Kustomisasi

Sekolah kebanyakan (terutama di Indonesia) menekankan pembelajaran seragam untuk seluruh siswanya. Seluruh siswa harus mengikuti pelajaran yang sama tanpa terkecuali. Suka tidak suka, seluruh siswa harus belajar mengenai seni, matematika, bahasa, fisika, biologi dan banyak lagi. Bukannya bertujuan meningkatkan kecerdasan, kini sekolah justru sibuk dengan mengejar target akademis.

Bandingkan dengan teknologi yang menyediakan banyak informasi dan mengakomodir keingintahuan siswa dengan lebih mendalam (bahkan lebih mendalam dari apa yang diajarkan di sekolah). Siswa yang tertarik dengan biologi misalnya, dapat dengan mudah mengunduh banyak sekali sumber dari berbagai negara untuk memperkaya pengetahuannya dan memuaskan ketertarikannya.

Guru sebagai Ahli vs Sumber Pengetahuan yang BERAGAM

Di sekolah, guru adalah sumber dari informasi yang bertugas meneruskan informasi yang dimilikinya kepada siswa. Mereka adalah pemilik otoritas yang (kebanyakan) tidak suka jika otoritasnya ditantang dengan banyak pertanyaan-pertanyaan dari siswa. Tidak jarang kita melihat guru yang mencoret jawaban siswa yang sebenarnya benar, hanya karena tidak mengikuti cara yang diajarkan guru.

Bandingkan dengan apa yang dapat diperoleh melalui dunia maya. Ada banyak video dari para ahli yang dapat diunduh dengan mudah. Bahkan ada banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan siswa yang mungkin tidak dapat dijawab oleh guru-guru di sekolah.

Mengerjakan dengan “kepala” vs menggunakan “alat bantu”

Ada suatu keyakinan dari guru-guru (dan orang tua) bahwa jika ingin menguasai sesuatu, maka siswa harus melakukannya sendiri tanpa alat bantu (misal kalkulator atau kamus). Lihat saja menjamurnya tempat-tempat les berhitung yang menuntut anak-anak dapat berhitung cepat di luar kepala.

Bedakan dengan apa yang sebenarnya terjadi di “dunia nyata” di mana kecerdasan seseorang tergantung dari kemampuannya menggunakan alat bantu untuk menyelesaikan pekerjaan yang dimilikinya.

Standar Penilaian vs Spesialisasi

Di sekolah, seluruh penilaian memiliki standarnya sendiri. Setiap siswa harus mengisi pilihan ganda, atau essay, atau apapun bentuk soal yang sama untuk seluruh siswa, di mana hasilnya merupakan nilai yang obyektif dan dinilai adil untuk seluruh siswa. Itulah sebabnya seluruh siswa perlu belajar hal yang sama. Sementara teknologi mendorong siswa untuk mencari tahu dan menguasai materi-materi yang hanya menjadi minatnya saja.

Penguasaan Materi vs Ledakan Pengetahuan

Di sekolah, siswa dituntut untuk menguasai pengetahuan yang ‘mungkin’ dibutuhkannya untuk kehidupan. Mereka dituntut untuk menghafal dan menguasai materi di luar kepala. Namun pengetahuan terus bertambah dan buku pelajaran akan makin tebal dan tebal seiring dengan pertambahan pengetahuan.

Dengan ledakan pengetahuan yang demikian pesat, manusia tidak mungkin mempelajari semua hal di sekolah yang akan berguna di kemudian hari. Siswa perlu belajar bagaimana caranya belajar sesuatu yang baru dan bagaimana menggali informasi dan sumber yang mereka perlukan.

 

Sekolah perlu menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi, namun yang perlu diingat adalah, transfer ilmu pengetahuan BUKANLAH tujuan utama PENDIDIKAN. Dalam era digital, di mana hubungan antar manusia merenggang dan life skill semakin menurun, tugas utama sekolah adalah MENCERDASKAN anak-anak agar mereka siap untuk menjadi MANUSIA SEUTUHnya.

Masalah kecerdasan sudah sering dibahas oleh banyak sumber. Anda pasti pernah mendengar mengenai kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence). Seringkali pembahasan mengenai kecerdasan majemuk hanyalah seputar “anak-anak kita memiliki kecerdasan berbeda, jangan hanya menilai mereka dari nilai matematikanya saja”.

Sebenarnya BUKAN ITU inti dari KECERDASAN MAJEMUK. Kecerdasan majemuk adalah jenis-jenis kecerdasan yang HARUS dimiliki setiap orang untuk dapat bertahan hidup. Sebenarnya kecerdasan majemuk ini sudah ada dalam materi-materi pelajaran di sekolah, sayangnya, hanya berupa tuntutan akademis yang seringkali kehilangan maknanya.

Sebenarnya kecerdasan majemuk perlu dilatih agar siswa dapat:

  1. Kecerdasan logika agar siswa dapat memecahkan permasalahan dalam kehidupan dengan sistematis dan logis.
  2. Kecerdasan bahasa agar siswa dapat berkomunikasi dengan benar, dengan bahasa yang sopan dan pantas.
  3. Kecerdasan visual agar siswa dapat lebih peduli dan memperhatikan lingkungan sekitarnya.
  4. Kecerdasan musik agar siswa dapat lebih peka dengan ‘suara-suara alam’ dan ‘ritmik kehidupan’
  5. Kecerdasan olah tubuh agar siswa dapat menjaga keseimbangan, kesehatan dan kebugaran tubuhnya.
  6. Kecerdasan natural agar siswa dapat bertanggungjawab dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.
  7. Kecedasan Interpersonal agar siswa dapat menguasai diri, berdamai dengan dirinya dan menerima dirinya apa adanya.
  8. Kecerdasan Intrapersonal agar siswa dapat menjalin hubungan / relasi yang sehat dengan setiap orang yang ada di sekitarnya.
  9. Kecerdasan eksistensial agar siswa dapat menyadari keberadaan dirinya merupakan anugerah dari Sang Pencipta dan mensyukuri setiap hal yang dia miliki dalam hidup

Bukankah semua hal itu penting dalam kehidupan? Bukankah itu seharusnya tujuan dari “pergi ke sekolah setiap hari”, agar anak-anak siap menghadapi “dunia luar”?

Sekolah bukanlah sekedar tempat untuk transfer ilmu! Jika memang begitu, maka sekolah sudah KALAH TELAK dari teknologi di era digital ini. Sekolah adalah tempat di mana siswa belajar menjadi cerdas dalam arti siap menjadi MANUSIA yang SEUTUHnya.

Mendidik bukanlah sekedar melakukan transfer ilmu! Jika memang begitu, maka guru sudah KALAH TELAK dengan teknologi di era digital ini. Pendidik adalah mereka dengan perencanaan matang yang menerapkan teori prinsip mengajar dan teori perkembangan anak untuk menyampaikan materi ajar dan menguasai kelas yang bertujuan mengubah PERILAKU anak didik secara positif (Levin dan Nolan).

Ini adalah era digital! Sekolah adalah tempat kedua di mana anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya. Jika sekolah tidak menggunakan waktu yang banyak itu untuk “mengubahkan perilaku” (dengan kata lain membina karakter) anak, maka sekolah akan menjadi suatu tempat yang tidak berguna.

 

Nantikan tulisan berikutnya: Mengajar Sekolah Minggu di Era Digital

Membesarkan Anak di Era Digital

Era digital tidak hanya mempengaruhi anak-anak, tapi juga orang dewasa. Itu sebabnya tidak hanya ada perbedaan antara “anak-anak jaman dahulu” dan “anak-anak sekarang”, tapi juga ada perbedaan antara “orang tua jaman dahulu” dan orang tua sekarang”, juga “guru-guru jaman dahulu” dan “guru-guru sekarang”. Semua orang terkena imbas dari majunya teknologi yang demikian pesat.

Orang tua di era digital menggunakan teknologi seperti TV, smartphone, komputer, dan tablet untuk “mengelola” kehidupan keluarga dan untuk mengasuh anak-anak mereka. Ketika anak-anak tumbuh dewasa, orang tua dan anak-anak memiliki jumlah tatap muka yang sangat sedikit, bahkan mereka memiliki kualitas hubungan yang lebih rendah dibanding era sebelumnya.

Berikut adalah beberapa hal yang harus diketahui orang tua terlebih dahulu: Continue reading

Anak-anak di Era Digital

“Anak-anak sekarang berbeda dengan anak-anak dahulu”

Tahukah Anda apa yang mendasari perbedaan yang terjadi? Mereka (dan juga kita saat ini) hidup di jaman digital. Seandainya kita hidup sejak kecil di jaman digital, dapat dipastikan bahwa kita akan menjadi sama seperti ‘anak-anak sekarang’.

Era digital adalah suatu masa di mana perkembangan teknologi demikian pesat dan pengetahuan dapat diperoleh dengan mudah baik dalam bidang ekonomi maupun sosial.

Anak-anak yang tumbuh pada era digital ini memiliki banyak pengalaman belajar dan bermain dengan teknologi baru seperti iPod, iPad, telepon pintar, facebook, dan banyak lagi. Tapi, hal yang mengkhawatirkan adalah, mereka kehilangan banyak jenis pembelajaran yang lain, interaksi fisik, dan kecerdasan emosi.

Dalam artikel kali ini kita akan membahas apa yang terjadi dengan anak-anak ini (dalam artikel berikutnya, kita akan membahas mengenai bagaimana mengajar anak-anak ini):

1. Anak-anak tidak lagi suka main di luar

Hopscotch

Anak-anak lebih suka main di dalam rumah sambil memegang peralatan elektronik mereka, duduk di depan komputer atau video games. Negara-negara Barat sudah menyadari hal ini dan pemerintah mereka berinvestasi begitu besar agar guru-guru dapat memotivasi siswa mereka untuk bermain di luar seperti petak umpet, hopscotch (permainan jingkat).

Ada banyak keuntungan jika anak mau main keluar dan menggunakan fisiknya. Mereka akan semakin sehat, lebih bahagia dan tidak akan mengalami kegemukan.

Di Indonesia, kita melihat masih banyak anak-anak di daerah pinggiran yang bermain keluar. Mereka bermain sepeda dan berlarian di jalan. Berbeda dengan “anak-anak kota” yang dibelikan gadget oleh orang tuanya.

2. Anak-anak tidak lagi belajar dengan Interaksi tatap muka

Bagaimana seorang bayi belajar berekspresi atau menunjukkan emosinya? Bagaimana mereka belajar bicara dan bahasa? Mereka melakukannya dengan mempelajari ekspresi wajah orang tuanya dan mereka mulai belajar menjadi mahluk sosial ketika mereka masuk PAUD dan sekolah.

Tapi apa yang terjadi sekarang?

Orang tua di era digital sibuk dengan peralatan elektroniknya dan tidak dapat diganggu. Mereka bahkan tidak ada waktu untuk melihat, tersenyum atau bercanda dengan anak-anak mereka sendiri! Lihatlah keluarga di restoran dan Anda akan melihat apa yang kami maksud.

Peringatan ini telah diberikan oleh banyak dokter anak. Salah satunya, Dr. Jenny Radesky, melakukan studi pada 55 kelompok orangtua ketika mereka makan di restoran cepat saji. Dia dan timnya menghabiskan musim semi melakukan observasi ini dan hampir semua orang tua perlu diingatkan untuk menjauhkan smartphone mereka dan memberikan perhatian pada anak-anak mereka. Hal ini sangat penting untuk perkembangan anak-anak.

3. Hubungan Orang tua-Anak Menjadi Renggang

Orang tua digital menganggap sepele peran orang tua dan ini tidak adil bagi anak-anak. Penggunaan peralatan elektronik memiliki dampak sangat buruk terhadap interaksi orang tua dengan anak. Orang tua beranggapan bahwa alat elektronik dapat menjadi substitusi mereka saat anak-anak butuh interaksi dan ini tidak baik. Selain itu, orang tua juga menjadi mudah marah ketika kegiatannya dengan peralatan elektronik mereka diinterupsi.

Dr. Wendy Sue Swanson, seorang dokter anak dari Rumah Sakit anak Seattle menganjurkan pada orang tua untuk membuat batasan dengan peralatan digital sehingga peran orang tua dapat dilakukan dengan baik. Demikian juga anak-anak harus dijauhkan dari peralatan elektronik yang membuat mereka lebih ‘menyayangi’ peralatan itu dibanding orang tua mereka.

4. Kemampuan Membaca Anak terpengaruh

Memang tidak banyak penelitian mengenai hal ini, tapi sebuah studi dilakukan oleh West Chester University menunjukkan bahwa anak yang membaca buku dengan kertas lebih memiliki pemahaman yang baik dari apa yang dibaca dibandingkan dengan anak yang membaca e-book. Anak yang membaca e-book cenderung membaca dengan melompat-lompat dan mudah teralihkan perhatiannya pada popups atau aplikasi lain.

5. Anak-anak tidak pernah bermain permainan papan (board games)

Hampir sepanjang waktu anak-anak di era digital bermain dengan games online. Apa yang terjadi dengan permainan papan (halma, monopoli, catur)? Ada banyak keuntungan ketika orang tua dan anak-anak memainkan permainan papan bersama:

  • Anak-anak belajar berhitung, matematika, membaca dan kosakata baru.
  • Orangtua dapat memiliki keterikatan dengan anak-anak
  • Anak belajar mengenai giliran, menerima kekalahan dan mengatasi kemenangan
  • Anak-anak akan lebih percaya diri, dan penghargaan pada dirinya meningkat
  • Anak-anak diajar mengenai kompetisi yang positif
  • Konsentrasi anak terlatih
  • Meningkatkan fokus dan perhatian anak

Walaupun banyak permainan dan aplikasi online di smarthone yang baik untuk membangun dan mengajar anak, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan interaksi manusia dengan manusia.

6. Anak-anak tidak tahu apa artinya persahabatan yang sejati

Ketika kita tumbuh, kita memiliki teman-teman, teman-teman yang nyata dan sebenarnya. Teman-teman virtual tidak benar-benar ada. Maksudnya, mereka ada tapi tidak terlihat ketika kita berkomunikasi. Kita tidak benar-benar mengenal kebanyakan dari teman-teman yang ada di facebook. Sebagian besar dari mereka hanya temannya teman yang kebetulan mengadd kita menjadi teman. Berkoneksi itu bagus dan hari ini, seorang remaja rata-rata mengirimkan 3000 pesan tertulis setiap bulannya.

TAPI… kelihatannya konsep pertemanan dan kedekatan menjadi berubah drastis dan hal ini kemudian akan sangat mempengaruhi HUBUNGAN. Penelitian di UCLA menunjukkan bahwa keterikatan digital sangat lemah, dibanding dengan interaksi tatap muka.

7. Anak-anak kehilangan kreativitas mereka

Trevor Baylis

Trevor Baylis, penemu Wind-Up Radio mengatakan bahwa ia takut anak-anak sekarang kehilangan kreativitasnya karena menghabiskan banyak waktunya di depan layar daripada mencoba segala sesuatu yang baru dengan tangan mereka.  Dia berkata mengenai merangkai / merakit sesuatu seperti moel aeroplane, dst. Anak-anak di era digital tidak pernah lagi memainkan permainan merakit seperti ini. Segala sesuatu sudah tersedia untuk mereka langsung gunakan.

8. Anak-anak tidak belajar EMPATI

Bertoleransi, memperhatikan dan mengendalikan emosi adalah life skill yang harus dikuasai dengan baik. Tapi anak-anak di era digital tidak mempelajari life skill ini sama sekali. Kita tidak bisa berempati dengan peralatan elektronik (setidaknya belum bisa). Cara terbaik untuk mempelajari life skill ini adalah bermain dengan anak-anak lain, dan belajar berbagi, menunggu giliran dan memberi. Apakah ada aplikasi untuk mempelajari itu?

9. Anak-anak tidak belajar mengenai nilai dan sikap

Kurangnya interaksi sosial yang sebenarnya dengan orang tua dan teman berarti mereka makin sedikit belajar tentang nilai-nilai dasar kehidupan seperti toleransi, kebaikan, kejujuran, kerajinan dan rasa hormat. Peralatan Elektronik baik untuk aktivitas belajar tapi hubungan orangtua-anak menjadi sangat lemah.

10. Anak-anak kurang tidur

Anak-anak di era digital ‘kehilangan waktu’ ketika mereka online. Mereka tidak ingat waktu , seolah-olah waktu terbuang begitu saja dengan percuma. Beda ketika mereka melakukan pekerjaan rumah tangga. Hal ini juga akan mempengaruhi mood mereka dan mereka menjadi mudah marah ketika diminta mematikan peralatan elektronik. Salah satu aspek yang paling serius adalah pengaruhnya di sekolah pada keesokan harinya.

11. Anak-anak kehilangan kemampuan logika dan bahasa

Anak-anak era digital memiliki keahlian luar biasa dalam seni dan hiburan, tapi kemampuan logika dan bahasa mereka tidak terlatih sama sekali. Mereka tidak dapat memahami perlunya berusaha untuk mendapatkan hasil, juga tidak dapat menemukan hubungan sebab akibat dari suatu permasalahan kehidupan yang terjadi.

Pertemanan secara virtual membuat mereka tidak dapat membedakan bagaimana cara berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau seumuran dengan mereka. Sementara orang tua atau guru di era digital merasa kehabisan waktu untuk mengajari hal semacam itu.

12. Anak-anak kecanduan online

Anak-anak di era digital seolah-olah tidak dapat hidup jika mereka tidak online. Bagaimana PR dapat dikerjakan tanpa melihat google? Atau bagaimana mengerjakan PR jika tidak bertanya pada teman lewat Whatsapp. Atau bagaimana menghabiskan waktu jika tidak memainkan permainan online.

Orang tua perlu berhati-hati dengan kecanduan ini. Mereka (orang tua) perlu menjadi teladan dan menjaga agar aktivitas online dan “tradisional” tetap terjaga dengan baik.

Ada beberapa tips untuk menjalankan keseimbangan ni:

  • Gunakan video call BERSAMA-SAMA untuk menghubungi nenek atau kakek
  • Mainkan video games BERSAMA-SAMA
  • Negosiasikan waktu istirahat BERSAMA antara orang tua dan anak dari peralatan elektronik (matikan semua peralatan elektronik atau simpan di tempat terpisah)
  • Main di luar ruangan BERSAMA-SAMA.

 

Era Digital tak dapat dihentikan dan peralatan digital adalah alat yang sangat baik untuk belajar dan hiburan. TAPI mereka perlu digunakan dengan HIKMAT dan KEHATI-HATIAN dan tidak untuk menggantikan interaksi tatap muka.

Berikutnya kita akan membahas:

  • Bagaimana menjadi orang tua di era digital
  • Bagaimana menjadi guru di era digital

Jadi, SUBSCRIBE blog ini yaa…!

 

diolah dari berbagai sumber

 

 

Tingkat Kemampuan Anak berdasarkan Usia (ed.2)

Hari ini kita akan melanjutkan bahasan kita mengenai tingkat kemampuan anak berdasarkan usianya. Kita sudah belajar tingkat kemampuan anak usia 0 – 4 tahun, hari ini kita akan lanjutkan untuk anak usia 4 – 7 tahun.

ANAK USIA 4 – 7 TAHUN

  • Belajar bagaimana berhubungan dengan Tuhan, anggota keluarga dan orang lain di dunia
  • Ingin belajar lebih banyak tentang lingkungan sekitar
  • Perlu belajar ‘berpisah’ dengan anggota keluar untuk waktu yang lebih panjang dalam sehari
    • Mereka perlu belajar mengurus diri sendiri ketika berjauhan dari orang tua
    • Mereka perlu dibangun rasa percaya dirinya dengan kemampuan-kemampuan barunya
    • Mereka perlu berteman dengan orang lain di luar keluarganya

Continue reading

Menjadi Guru Sekolah Minggu yang BERHASIL (Konsep Anak Panah)

Seorang raja besar yang berasal dari keluarga yang berantakan pernah berkata

“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuhnya di pintu gerbang.” (Mazmur 127:4-5)

Ya, Salomo adalah anak dari Raja Daud, seorang Raja dengan banyak istri dan anak-anak yang membangkang. Dia tahu benar bahwa jika seorang anak tidak dididik dengan baik, maka orang tuanya akan mendapat malu. Lihat saja kakaknya Absalom yang benar-benar membuat ayahnya malu, belum lagi Amnon yang memperkosa adiknya sendiri. Continue reading