Tantrum di Sekolah Minggu

Hallo Guru Sekolah Minggu, Pernahkah Anda menghadapi seorang anak yang mengalami tantrum di Sekolah Minggu, khususnya di kelas balita?

Tantrum adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan. Kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika “tujuan” orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang.

Para orang tua mungkin pernah mengalami anak-anak (khususnya balita) yang tantrum. Tidak dapat dikendalikan atau dibujuk, dan biasanya akan berujung pada rasa frustrasi dari orang tua maupun orang dewasa yang berada di sekitar anak yang sedang mengalami tantrum.

Sebelum kita melangkah lebih jauh berbicara mengenai penanganan tantrum, mari kita cari tahu apa penyebab seorang anak bisa mengalami tantrum.

Penyebab Tantrum

Sebuah tantrum kemungkinan besar disebabkan ketika beban frustrasi – sering dibubuhi ketakutan atau kecemasan – menumpuk di dalam diri balita sampai dia begitu penuh dengan ketegangan yang hanya bisa dilepaskan dengan sebuah “ledakan”.

Terkadang, tantrum menyerang begitu cepat, tanpa disadari sebelumnya, karena ada seseorang yang melakukan hal yang salah terhadap si balita.

Apa yang terjadi selama tantrum?

Tantrum setiap anak mungkin bervariasi (antara satu anak dengan anak lainnya), tapi biasanya seorang anak yang sama memiliki jenis tantrum yang sama, artinya seorang anak mungkin berperilaku sama setiap kali tantrum. Ada anak yang berteriak-teriak sambil berkeliling kelas, ada juga yang duduk di lantai sambil berteriak-teriak dan menggerak-gerakan kaki, ada juga yang berguling-guling di lantai sambil histeris, ada juga yang menendang-nendang seolah-olah sedang berkelahi dengan pribadi tak berwujud.

Biasanya, siapa saja yang mencoba untuk mendekati anak yang tantrum akan mendapat tendangan atau tinju (jadi hati-hati), dan anak-anak yang tantrum ini akan terus berteriak sampai serak atau sampai muntah. Anda akan melihat wajahnya berubah mulai merah hingga biru, dalam beberapa kasus ada yang menahan nafasnya begitu lama sehingga wajahnya terlihat begitu pucat.

Bagaimana menangani Tantrum?

Hal pertama yang harus Anda lakukan, bahkan sebelum ada anak yang mengalami tantrum di kelas balita Anda, adalah bicara dengan para orang tua. Minta mereka memberitahu Anda khususnya mengenai anak-anak yang sering mengalami tantrum (biasanya ada anak tertentu yang memang sering mengalami tantrum di rumah)

Selanjutnya, jangan kehilangan kendali. Anda mungkin ingin segera meninggalkan kelas ketika ada anak yang mengalami tantrum. Tapi percayalah, hal ini malah akan membuat anak yang tantrum merasa diabaikan dan tidak diperhatikan. Mereka sendiri merasa takut dengan ledakan emosi yang mereka alami, mereka butuh bantuan orang dewasa untuk mengatasinya. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa ketika seorang anak mengalami tantrum, mereka tidak mau mendengar apapun dan tak dapat dibujuk untuk melakukan apapun.

Berikutnya, selalu ingat bahwa Anda adalah orang dewasa. Tidak peduli berapa lama tantrum berlangsung, jangan menyerah pada tuntutan yang tidak masuk akal atau bernegosiasi dengan anak yang sedang berteriak-teriak. Namun, jangan juga kehilangan kendali dan memarahi anak yang sedang tantrum. Sekali lagi, mereka sendiri pun sedang bingung dengan perasaan mereka dan butuh dibantu.

Jika ledakan anak meningkat ke titik di mana dia memukul orang atau hewan peliharaan, melempar sesuatu, atau berteriak tanpa henti, bawa dia ke tempat yang aman, seperti kamar terpisah, di mana dia tidak bisa membahayakan dirinya sendiri. Katakan padanya mengapa dia ada di sana (“karena Anda memukul temanmu”), dan biarkan dia tahu bahwa Anda akan tinggal bersamanya sampai dia tenang.

Hal yang harus diingat adalah, ketika Anda memisahkan anak yang sedang tantrum, tinggallah bersama mereka di manapun Anda menempatkan mereka, atau Anda bisa meminta rekan guru sekolah minggu Anda yang lebih kompeten untuk tinggal bersama anak yang sedang tantrum (sementara Anda memanggil orang tua yang bersangkutan).

Tunggulah sampai anak itu tenang. Setelah anak itu mereda dan dapat didekati, peluk atau duduklah dekat anak itu dan bicaralah dengan bahasa sederhana, “kenapa kamu marah?  Kamu marah karena ada yang mengganggumu? Kamu tadi teriak-teriak sehingga kakak tidak mengerti. Sekarang coba cerita, kamu kenapa?”

Selanjutnya berbicaralah dengan orang tua mereka mengenai apa yang terjadi.

Mencegah tantrum di kelas balita Sekolah Minggu

Sebelum berbicara lebih jauh, ingatlah: hal pertama yang harus Anda siapkan adalah diri Anda sendiri. Jangan mengajar dalam keadaan kurang tidur, banyak masalah atau kelelahan.

Berikutnya, sediakan makanan kecil / snack. Perhatikan dengan baik anak-anak yang mulai rewel di kelas. Anak yang lapar dan lelah akan lebih mudah terkena tantrum. Menyediakan / memberikan makanan kecil di kelas balita tidak ada salahnya, khususnya jika Anda terpaksa meng-arrange waktu sekolah minggu yang panjang.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah rencanakan setiap pelajaran dengan baik. Ingatlah bahwa rentang waktu konsentrasi seorang anak balita tidak lebih dari lima menit (untuk suatu aktivitas yang sama). Setiap lima menit, minta mereka melakukan hal yang berbeda. Dalam sesi Firman Tuhan, libatkan mereka dengan bergerak atau menirukan suara tertentu.

Selalu ingat bahwa untuk mengajar di kelas balita, Anda butuh teamwork yang solid. Rekan-rekan yang tidak sedang ‘bicara di depan’ dan dapat mengawasi setiap anak satu persatu. Awasi hubungan setiap anak, anak yang mulai mengantuk / bosan, atau anak-anak yang sedang merasa kesal.

 

Akhir kata, selamat melayani, Pahlawan yang Gagah Perkasa. Tuhan Yesus menyertai!

dirangkum dari berbagai sumber
Advertisements

Lagu Baru: TUHANKU BESAR

Hallo guru-guru Sekolah Minggu yang dikasihi Tuhan,
Ini dia lagu baru untuk bulan Oktober, judulnya TUHANKU BESAR. Mengapa kita harus menyembah Tuhan? Karena Dia adalah Pribadi yang Maha Besar. Hal ini yang harus ditekankan pada anak-anak ketika Saudara mengajarkan lagu ini. Beritahu mereka bahwa kebesaran Tuhan tidak terbatas… Bahwa kebesaran-Nya tidak dapat dibandingkan dengan apapun…

Silahkan bagikan link di bawah ini kepada rekan kerja, teman-teman, anak-anak, adik-adik atau siapapun yang Saudara rasa memerlukan lagu baru ini.

Berikut ini linknya:

Tuhanku Besar

Kami sangat berterimakasih jika Saudara berkenan meluangkan waktu mengisi kolom di bawah ini. Dengan Saudara mengisi dan memberi komentar, Saudara sedang memberi kami dukungan untuk terus melakukan hal yang sama tiap bulannya.

 

Bagaimana MERINTIS Sekolah Minggu

Apakah di gereja Anda ada pelayanan Sekolah Minggu? Seringkali Sekolah Minggu diadakan bersamaan waktunya dengan ibadah orang dewasa, di area yang terpisah. Kita semua menyadari bahwa anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa belajar banyak tentang Tuhan dengan mempelajari Firman-Nya (Alkitab). Hal inilah yang melatar belakangi munculnya “Sekolah Minggu” (atau jaman sekarang lebih sering disebut “Pelayanan Anak”).
Jika Anda begitu ingin memulai Pelayanan Anak ini, Anda dapat memulainya hanya dengan tempat pertemuan, Alkitab, dan beberapa anak (tentu saja, Anda juga membutuhkan tuntunan Roh Kudus!). Tapi kemudian, Anda akan menyadari bahwa Anda membutuhkan pemikiran lebih mendalam mengenai ‘apa yang ingin Anda capai’, bagaimana Anda ingin mencapainya, apa yang akan Anda ajarkan dan siapa yang akan membantu Anda.

Atau dengan kata lain, Anda perlu memberi perhatian pada beberapa hal di bawah ini:

TUJUAN

Apa tujuan dari pelayanan Anda? Apa yang Anda coba raih? Apa yang sedang Anda coba penuhi?

  • Apakah Anda mencoba membagikan Kabar Baik dari Injil?
  • Apakah Anda mencoba memuridkan orang yang sudah percaya?
  • Apakah Anda mencoba menyediakan tempat penitipan anak, hingga orang dewasa dapat melayani dan beribadah dengan lebih lancar?
  • Apakah Anda hanya sekedar mengumpulkan sebanyak mungkin anak untuk menghibur mereka?

PRIORITAS

Apa yang perlu Anda lakukan terlebih dahulu? Hal apa yang PALING penting?

  • Apa yang harus dilakukan, dengan urutan bagaimana, untuk hal yang paling penting ini?
  • Apa yang harus dilakukan kemudian?
  • dan selanjutnya, dan selanjutnya…

RENCANA

Suatu ringkasan mengenai BAGAIMANA Anda akan mencapai tujuan Anda dan melakukan prioritas Anda

  • Pikirkan mengenai pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
    • Siapa yang akan menjadi murid-murid Anda?
    • Siapa saja yang akan menjadi guru, administrator, dan penolong?
    • Pelayanan seperti apa yang Anda harapkan?
    • Apa saja yang akan Anda pelajari untuk melakukan tugas dan tanggungjawab ini?
    • Dimana dan kapan Anda akan melakukan pertemuan?
    • Bagaimana Anda akan membayar pengeluaran yang mungkin terjadi?

PASTOR / PENDETA

Dalam setiap organisasi gereja, ada sebuah hierarki otoritas

  • Diskusikan ide dan jawaban-jawaban Anda akan pertanyaan di atas dengan Pendeta Anda dan / atau pemimpin gereja lain yang terkait
  • Kepada siapa Anda akan mempertanggungjawabkan peran pelayanan yang baru ini
  • Untuk siapa Anda bertanggungjawab dalam peran pelayanan yang baru ini

JALUR


Apa yang murid-murid perlukan? Apa yang akan Anda pelajari?

  • Berapa rentang usia murid-murid Anda
  • Apakah mereka orang-orang percaya?
  • Apa yang sudah mereka tahu tentang Tuhan?
  • Berapa banyak mereka tahu tentang Firman Tuhan(bersambung)

ps: berikutnya kita akan membahas satu persatu mengenai Tujuan, Prioritas, Rencana, Pastor / Pendeta dan Jalur ini… Jadi.. SUBSCRIBE ya!!

 

diolah dari berbagai sumber

Tingkat Kemampuan Anak berdasarkan Usia (ed 3)

Setelah membahas kemampuan anak sampai usia 7 tahun, hari ini kita akan melanjutkan bahasan kita mengenai tingkat kemampuan anak berdasarkan usianya. Kita sudah belajar tingkat kemampuan anak usia 8 – 10 tahun. Deskripsi di bawah ini dapat membantu Saudara dalam menyiapkan kelas, materi, craft, ataupun games untuk anak-anak usia 8 – 10 tahun di kelas Saudara.

  • Tujuan pengajaran untuk anak usia 8 – 10 tahun adalah:
    • Penerimaan diri; belajar tentang kekuatan dan talenta
    • Berteman; belajar tentang bagaimana bersama dengan orang lain
    • Memahami bahwa setiap orang berbeda – menerima perbedaan
  • Mulai belajar tentang peran mereka dalam masyarakat, tanggungjawab dalam keluarga, teman-teman

  • Pembaca pemula – mampu membaca dan memahami informasi
    • Belajar untuk membuka dan membaca Alkitab
    • Mampu menyalin ayat dari Alkitab ke buku teks
    • Mampu menjawab pertanyaan tertulis dengan jawaban singkat
    • Bermain permainan menyusun kata
    • Belajar menuliskan paragraf dan membuat laporan lisan
  • Belajar melakukan tugas-tugas dengan tipe berbeda baik di rumah maupun sekolah
  • Dapat memainkan permainan kelompok yang kompleks, bahkan yang kompetitif (sepak bola, voli, basket)
  • Memiliki keahlian motorik yang baik
    • Sangat baik bekerja dengan gunting dan lem
    • Dapat melakukan pekerjaan detil dan proyek craft yang lebih detil
    • Dapat belajar pelajaran dasar menjahit, merajut, memasak, membuat kue
    • Dapat belajar menggunakan palu, obeng, gergaji, dll
  • Dapat bermain teka-teki kata dan permainan angka
  • Dapat mengingat kitab-kitab dalam Alkitab, nama-nama murid dll
  • Dapat mengingat bagian panjang dalam Alkitab (contoh: Mazmur 23, Doa Bapa Kami)
  • Belajar untuk bermain sendiri maupun kelompok
  • Dapat mulai memahami sejarah Alkitab
  • Pesan Rohani yang harus disampaikan:
    • Pesan keselamatan
    • Kita dapat menerima Yesus sebagai Juruselamat
    • Tuhan mengasihimu dan orang lain juga
    • Tuhan mengetahui seluruhnya tentang kamu dan mengasihi kamu apa adanya
    • Tuhan memiliki rencana yang luar biasa dalam hidupmu
    • Tuhan tidak akan pernah meninggalkan atau melupakanmu
    • Kamu dapat mempercayai Tuhan
    • Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Hadir
    • Tidak ada yang dapat kamu lakukan yang dapat membuat Tuhan MAKIN mencintaimu atau KURANG mencintaimu
    • Yesus adalah satu-satunya jalan
    • Kita diselamatkan karena Kasih Karunia (karena Tuhan begitu baik), dan bukan karena usaha kita (atau apa yang kita lakukan).
    • Kamu dapat bersaksi mengenai kasih Tuhan dan apa yang Tuhan lakukan dalam hidupmu.

Anak, Asset Gereja dan Dunia

From the desk of Rev. Dr. Benijanto Sugihono, SH, M.Th

Ketakutan terbesar dunia saat ini adalah “The Lost Generation”, sebuah ketakutan akan masa depan dunia akan punahnya umat manusia (sekalipun saat ini, dilihat dari sisi jumlah manusia, dunia mengalami peningkatan akibat kelahiran).  Dari sisi itu, dunia agaknya tidak perlu kuatir akan terjadinya kepunahan umat manusia.  Namun, jangan berpuas diri dulu, sebab ketakutan yang sedang membayangi dunia bukan karena jumlah secara kuantitatif, tetapi penurunan kualitas manusia itu sendiri.

Gaya hidup manusia yang semakin egois dan tidak peduli dengan dirinya sendiri, membuat kehidupan manusia terancam akan mengalami kemunduran total dan bisa-bisa manusia kembali ke jaman kanibalisme.  Mengetahui ancaman yang ada, maka dunia mulai berpikir bagaimana mengambil langkah preventif (pencegahan), sehingga ketakutan itu dapat dihindari.  Ada berbagai macam cara ditempuh, mulai dari mengadakan seminar, pelatihan, simposium, bahkan sampai kepada konperensi tingkat Internasional, yang semuanya bertujuan meningkatkan kualitas manusia secara utuh dan menyeluruh.

Namun, beberapa ahli mengatakan bahwa upaya untuk meningkatkan kualitas manusia dengan sasaran mereka yang sudah dewasa, hanya memberikan dampak tidak lebih dari 40%, selebihnya pembentukan masa kecil tidak bisa diubah secara drastis.  Artinya bahwa pelatihan dan pembinaan yang dilakukan terhadap orang-orang dewasa, hanya berdampak sangat kecil terhadap kepribadian orang tersebut, sebab apa yang dibentuk di masa kecilnya menjadi sesuatu yang sangat melekat dan sukar diubahkan.  Continue reading

Pahlawan yang Lelah

image

“Anak-anak sekarang tidak seperti anak-anak jaman dulu” merupakan kalimat yang sering kita dengar dari mulut guru-guru Sekolah Minggu.

“Mereka sekarang sulit disuruh bernyanyi, sulit duduk diam, selalu memainkan gadget, terlalu kritis, selalu protes”

Benar! Lingkungan sedikit banyak memang berpengaruh pada diri anak-anak (bahkan tidak hanya anak, orang dewasa pun terpengaruh). Tapi sebenarnya, anak-anak tetap sama. Mereka memiliki potensi diajar yang luar biasa, mereka mudah menyerap apapun, mereka suka gambar, bermain, menggerakkan tubuh, dan mereka memiliki potensi belajar tentang Tuhan.

Sebenarnya yang berubah adalah kita, guru-guru Sekolah Minggu yang sudah mengajar bertahun-tahun. Kebanyakan dari kita menjadi letih, lelah, jenuh dengan rutinitas mingguan kita. Kita mulai mengurangi porsi demi porsi yang seharusnya kita berikan pada anak-anak.

Kelas persiapan menjadi terlalu melelahkan bagi kesibukan kita. Kita berdalih “daripada susah-susah bertemu untuk kelas persiapan, sebaiknya membuat group di whatsapp”.

Training Guru Sekolah Minggu dinilai terlalu merepotkan. Kita berdalih “daripada susah-susah membuat jadwal training, sebaiknya mereka yang baru belajar dari kita yang lama (yang sebenarnya sudah kelelahan mengajar)”

Alat peraga dinilai terlalu menyulitkan untuk dibuat. Kita berdalih “untuk apa ada teknologi multimedia yang memudahkan kita. Lagipula anak-anak suka menonton”

Kreativitas menjadi sebuah kata yang sulit dideskripsikan setelah banyak sumber tersedia di youtube dan dunia maya. Alih-alih mencari alat peraga yang sesuai dengan bahan ajar, kita membuat bahan ajar yang sesuai dengan alat peraga yang (kebetulan) kita temukan di jejaring sosial.

image

Guru pendatang di dunia Sekolah Minggu bingung dengan “bagaimana yang seharusnya”. Mereka berpikir begitulah yang biasa dilakukan. Tanpa kita sadari kualitas guru semakin lama semakin menurun.

Belum lagi hambatan yang ada baik dari dalam maupun luar organisasi gereja. Kurangnya pemain musik, ruang Sekolah Minggu yang tidak memadai, kurangnya guru Sekolah Minggu, kurangnya budget untuk Sekolah Minggu, gadget yang selalu dipegang anak, orang tua yang sulit kooperatif merupakan contoh dari masalah yang dihadapi Guru Sekolah Minggu.

Guru Sekolah Minggu yang dikasihi Tuhan, dunia ini membuat kita lelah. Mengajar bertahun-tahun membuat kita jenuh. Keterbatasan membuat kita putus asa. Hambatan membuat kita apatis.

Saudara, jerih lelah Anda tidak sia-sia! Untuk setiap keringat yang Anda keluarkan, Tuhan memperhitungkannya. Untuk setiap air mata yang mengalir, Tuhan menampungnya. Untuk setiap hati yang terluka, Tuhan memiliki obatnya.

Namun kita tidak bisa melayani anak-anak dengan kelelahan, kejenuhan dan hati yang patah. Tuhan Yesus berkata “barangsiapa menyambut seorang anak di dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Matius 18:5).

Ya, saat kita menyambut anak, kita menyambut Yesus. Bagaimana Saudara ingin menyambut Yesus?

image

Alkitab mengajarkan kita cara mengatasi kelelahan:
“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”

Saudara mungkin berkata “Ya, kami tahu… tapi apa yang harus kami lakukan agar kami tidak lelah dan jenuh?”

Tulisan-tulisan berikutnya akan berisi tips-tips dan informasi yang akan memperlengkapi Saudara dalam melayani. Namun dalam tulisan ini, ada empat hal dasar yang dapat mengatasi kelelahan Saudara:

1. Andalkan Tuhan, nantikanlah Dia. Saudara akan kehabisan tenaga ketika mengandalkan kekuatan sendiri. Sebaliknya, Saudara akan mendapat kekuatan baru ketika Saudara mengandalkan kekuatan Tuhan.

2. Ingat bahwa anak-anak ini adalah milik pusaka Tuhan (Mazmur 127:3) dan saat Saudara menyambut mereka, Saudara sedang menyambut Tuhan.

3. Sadari tujuan pelayanan Saudara. Saudara sedang investasi dalam hidup setiap anak. Saudara kemungkinan besar mempengaruhi masa depan mereka. Jika tanggungjawab itu Tuhan berikan ke tangan Saudara, apa yang akan Saudara lakukan?

4. Perlengkapi diri untuk melayani dengan EFEKTIF! Saat kita melayani dengan tepat sasaran, rasa lelah kita akan berganti sukacita. Namun, hati saja tidak cukup untuk dapat melayani dengan efektif, Saudara harus memiliki hati yang mau BELAJAR.

Dari tulisan sebelumnya kita sudah belajar mengenai bagaimana menjadi Guru Sekolah Minggu (mulai dari basic, luar biasa, hingga berhasil). Kita juga sedang belajar mengenai tingkat kemampuan anak berdasarkan usia.

Tulisan-tulisan berikutnya kita akan belajar:
1. Manajemen Kelas
2. Mengajar dengan efektif
3. Mengajar dengan kreatif

Bagi Saudara yang memiliki ide atau masukan mengenai materi yang ingin dibahas, bisa mengisi kolom comment di bawah ini.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya! Tuhan menyertai engkau, Ya Pahlawan yang gagah berani.

Apa yang harus ku jawab?

Aku berdiri di hadapan takhta itu
Di hadapanku berdiri Sang Maha Tinggi
Siap dengan pertanyaan-Nya

“Aku mempercayakan anak-anak itu di tanganmu
Apa yang sudah kau lakukan untuk mereka”

Aku terdiam,
Terus terang, aku guru sekolah minggu yang hebat
Anak-anak menyukaiku…

“Aku mendekor ruangan dengan sangat bagus,
Begitu banyak uang keluar untuk itu…
Aku menyiapkan sound system dan pencahayaan yang baik,
Aku menyiapkan alat musik dan lagu-lagu yang indah…”

Aku tersenyum puas,
Seolah aku melakukan semuanya dengan sangat baik…

“Itu saja?” Tanya-Nya, seolah tak puas..

“Eh, aku…tentu saja tidak” Jawabku,
“Aku menyiapkan permainan yang seru setiap minggu,
Aku membawakan cerita-cerita yang menarik,…”

“Apakah kau mengenal mereka?” Tanya-Nya
Menyentakkanku dari rasa banggaku..

“Tentu saja…aku mengetahui nama mereka satu persatu” Jawabku, masih merasa bangga

“Apakah kau mengenal mereka? Masalah mereka?” Tanya-Nya lagi

Aku terdiam…Mengingat-ingat
Aku ingat Willy sangat murung, tapi aku tak pernah bertanya mengapa
Aku ingat Lili pernah ingin bercerita, tapi aku sangat sibuk dengan absen, dan pekerjaanku

“Tapi aku membuat mereka senang setiap minggu kan?” Jawabku membela diri

“Apakah kau membawa mereka kepada-Ku” dengan nada rendah Dia bertanya

“Aku mengadakan acara Natal yang hebat kok…ratusan juta dikeluarkan untuk itu
Kau tentu tau kan? Dekorasinya benar-benar bagus. Bukankah kami berdoa untuk itu?
Kami juga mendesain ruangan kami dengan sangat indah, Kau dapat melihatnya kan?”

“Mereka suka bertemu denganku” jawabku
“Apakah mereka suka bertemu dengan-Ku?” tanya-Nya

“Mereka suka kok datang ke sekolah minggu” jawabku
“Apakah mereka suka datang ke hadirat-Ku?” tanya-Nya lagi

“Mereka melakukan perintahku” jawabku
“Apakah mereka melakukan kehendak-Ku” tanya-Nya

“Aku mempercayakan mereka ke tanganmu..
Apakah mereka sudah mengenal-Ku?
Sampai saat ini, aku belum menemukan nama mereka di Buku Kehidupan”

Aku terdiam tak tahu harus jawab apa…
Mengapa segalanya jadi terasa sia-sia
Apakah aku memperjuangkan sesuatu yang salah?

Ah, seandainya waktu bisa diulang…