Tantrum di Sekolah Minggu

Hallo Guru Sekolah Minggu, Pernahkah Anda menghadapi seorang anak yang mengalami tantrum di Sekolah Minggu, khususnya di kelas balita?

Tantrum adalah ledakan emosi, biasanya dikaitkan dengan anak-anak atau orang-orang dalam kesulitan emosional, yang biasanya ditandai dengan sikap keras kepala, menangis, berteriak, menjerit-jerit, pembangkangan, mengomel marah, resistensi terhadap upaya untuk menenangkan dan, dalam beberapa kasus, kekerasan. Kendali fisik bisa hilang, orang tersebut mungkin tidak dapat tetap diam, dan bahkan jika “tujuan” orang tersebut dipenuhi dia mungkin tetap tidak tenang.

Para orang tua mungkin pernah mengalami anak-anak (khususnya balita) yang tantrum. Tidak dapat dikendalikan atau dibujuk, dan biasanya akan berujung pada rasa frustrasi dari orang tua maupun orang dewasa yang berada di sekitar anak yang sedang mengalami tantrum.

Sebelum kita melangkah lebih jauh berbicara mengenai penanganan tantrum, mari kita cari tahu apa penyebab seorang anak bisa mengalami tantrum.

Penyebab Tantrum

Sebuah tantrum kemungkinan besar disebabkan ketika beban frustrasi – sering dibubuhi ketakutan atau kecemasan – menumpuk di dalam diri balita sampai dia begitu penuh dengan ketegangan yang hanya bisa dilepaskan dengan sebuah “ledakan”.

Terkadang, tantrum menyerang begitu cepat, tanpa disadari sebelumnya, karena ada seseorang yang melakukan hal yang salah terhadap si balita.

Apa yang terjadi selama tantrum?

Tantrum setiap anak mungkin bervariasi (antara satu anak dengan anak lainnya), tapi biasanya seorang anak yang sama memiliki jenis tantrum yang sama, artinya seorang anak mungkin berperilaku sama setiap kali tantrum. Ada anak yang berteriak-teriak sambil berkeliling kelas, ada juga yang duduk di lantai sambil berteriak-teriak dan menggerak-gerakan kaki, ada juga yang berguling-guling di lantai sambil histeris, ada juga yang menendang-nendang seolah-olah sedang berkelahi dengan pribadi tak berwujud.

Biasanya, siapa saja yang mencoba untuk mendekati anak yang tantrum akan mendapat tendangan atau tinju (jadi hati-hati), dan anak-anak yang tantrum ini akan terus berteriak sampai serak atau sampai muntah. Anda akan melihat wajahnya berubah mulai merah hingga biru, dalam beberapa kasus ada yang menahan nafasnya begitu lama sehingga wajahnya terlihat begitu pucat.

Bagaimana menangani Tantrum?

Hal pertama yang harus Anda lakukan, bahkan sebelum ada anak yang mengalami tantrum di kelas balita Anda, adalah bicara dengan para orang tua. Minta mereka memberitahu Anda khususnya mengenai anak-anak yang sering mengalami tantrum (biasanya ada anak tertentu yang memang sering mengalami tantrum di rumah)

Selanjutnya, jangan kehilangan kendali. Anda mungkin ingin segera meninggalkan kelas ketika ada anak yang mengalami tantrum. Tapi percayalah, hal ini malah akan membuat anak yang tantrum merasa diabaikan dan tidak diperhatikan. Mereka sendiri merasa takut dengan ledakan emosi yang mereka alami, mereka butuh bantuan orang dewasa untuk mengatasinya. Walaupun tak dapat dipungkiri bahwa ketika seorang anak mengalami tantrum, mereka tidak mau mendengar apapun dan tak dapat dibujuk untuk melakukan apapun.

Berikutnya, selalu ingat bahwa Anda adalah orang dewasa. Tidak peduli berapa lama tantrum berlangsung, jangan menyerah pada tuntutan yang tidak masuk akal atau bernegosiasi dengan anak yang sedang berteriak-teriak. Namun, jangan juga kehilangan kendali dan memarahi anak yang sedang tantrum. Sekali lagi, mereka sendiri pun sedang bingung dengan perasaan mereka dan butuh dibantu.

Jika ledakan anak meningkat ke titik di mana dia memukul orang atau hewan peliharaan, melempar sesuatu, atau berteriak tanpa henti, bawa dia ke tempat yang aman, seperti kamar terpisah, di mana dia tidak bisa membahayakan dirinya sendiri. Katakan padanya mengapa dia ada di sana (“karena Anda memukul temanmu”), dan biarkan dia tahu bahwa Anda akan tinggal bersamanya sampai dia tenang.

Hal yang harus diingat adalah, ketika Anda memisahkan anak yang sedang tantrum, tinggallah bersama mereka di manapun Anda menempatkan mereka, atau Anda bisa meminta rekan guru sekolah minggu Anda yang lebih kompeten untuk tinggal bersama anak yang sedang tantrum (sementara Anda memanggil orang tua yang bersangkutan).

Tunggulah sampai anak itu tenang. Setelah anak itu mereda dan dapat didekati, peluk atau duduklah dekat anak itu dan bicaralah dengan bahasa sederhana, “kenapa kamu marah?  Kamu marah karena ada yang mengganggumu? Kamu tadi teriak-teriak sehingga kakak tidak mengerti. Sekarang coba cerita, kamu kenapa?”

Selanjutnya berbicaralah dengan orang tua mereka mengenai apa yang terjadi.

Mencegah tantrum di kelas balita Sekolah Minggu

Sebelum berbicara lebih jauh, ingatlah: hal pertama yang harus Anda siapkan adalah diri Anda sendiri. Jangan mengajar dalam keadaan kurang tidur, banyak masalah atau kelelahan.

Berikutnya, sediakan makanan kecil / snack. Perhatikan dengan baik anak-anak yang mulai rewel di kelas. Anak yang lapar dan lelah akan lebih mudah terkena tantrum. Menyediakan / memberikan makanan kecil di kelas balita tidak ada salahnya, khususnya jika Anda terpaksa meng-arrange waktu sekolah minggu yang panjang.

Hal lain yang tidak kalah penting adalah rencanakan setiap pelajaran dengan baik. Ingatlah bahwa rentang waktu konsentrasi seorang anak balita tidak lebih dari lima menit (untuk suatu aktivitas yang sama). Setiap lima menit, minta mereka melakukan hal yang berbeda. Dalam sesi Firman Tuhan, libatkan mereka dengan bergerak atau menirukan suara tertentu.

Selalu ingat bahwa untuk mengajar di kelas balita, Anda butuh teamwork yang solid. Rekan-rekan yang tidak sedang ‘bicara di depan’ dan dapat mengawasi setiap anak satu persatu. Awasi hubungan setiap anak, anak yang mulai mengantuk / bosan, atau anak-anak yang sedang merasa kesal.

 

Akhir kata, selamat melayani, Pahlawan yang Gagah Perkasa. Tuhan Yesus menyertai!

dirangkum dari berbagai sumber
Advertisements

Jumlah Anak Sekolah Minggu Berkurang?

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa jumlah anak-anak yang menghadiri Sekolah Minggu berkurang secara drastis. Anda bisa melihat isi dari penelitiannya di sini. Saya akan merangkum penelitian tersebut dalam sebuah diagram seperti ini:

Bagaimana dengan di Indonesia?

Berdasarkan hasil penelitian saya pribadi, baik melalui kunjungan saat pelayanan maupun bicara dengan beberapa Guru Sekolah Minggu, hal yang serupa terjadi di Indonesia. Jumlah Anak Sekolah Minggu berkurang dibandingkan dengan beberapa dekade yang lalu, katakanlah tahun 1980 – 1990 an.

Kemana perginya anak-anak ini?

Anda tentu tidak akan merasa terkejut kalau saya katakan anak-anak ini tidak kemana-mana. Orang tua merasa tidak perlu lagi “menitipkan” anaknya di Sekolah Minggu selama mereka ibadah karena mereka mempunyai gadget, sebuah peralatan canggih yang dapat membuat anak-anak mereka tidak lagi “bikin ribut” di ruang ibadah.

Solusinya…, banyak guru sekolah minggu kemudian mencoba melakukan banyak hal agar Sekolah Minggu menarik perhatian anak, namun rupanya di luar sana banyak hal yang lebih menarik perhatian anak-anak. Permainan game online yang mengharuskan pemainnya selalu online rupanya bisa membuat gambar yang lebih menarik dan tantangan-tantangan baru setiap hari.

Rekan Guru Sekolah Minggu, jika kita tidak melakukan sesuatu, maka di masa depan, gereja akan mengalami “krisis Pelayan Tuhan”. Siapa yang akan melayani anak-anak beberapa dekade dari sekarang?

Namun pertanyaan besarnya adalah apa itu “sesuatu” yang bisa kita lakukan?

Ada sebuah lagu Sekolah Minggu yang selalu saya ingat, “Dia harus makin bertambah, ku harus makin berkurang. Nama Yesus saja disembah, ku di tempat paling b’lakang. Bila Yesus ditinggikan dan salib-Nya dic’ritakan, pasti Dia menarik semua orang datang kepada-Nya s’karang”

Saudara, memperlombakan program Sekolah Minggu dengan program sekuler dan gadget tidak akan pernah berhasil. Satu-satunya cara membuat anak-anak itu datang kepada Tuhan adalah dengan memposisikan Tuhan di tempat yang benar, artinya menjadikan Tuhan sebagai prioritas dalam Sekolah Minggu kita. Bukan permainan menarik, bukan dekorasi, bukan hadiah yang keren, tapi tempatkan TUHAN sebagai prioritas dan “daya tarik” bagi anak-anak.

Selanjutnya, Anda mungkin bisa meminta dukungan dari Gembala di gereja Anda untuk memberi pengertian pada orang tua mengenai “pentingnya anak-anak berjemaat dan bersekutu bersama Saudara seiman sejak kecil”.

Hal berikutnya adalah dengan membangun hubungan. Pernahkah Anda mendengar tentang gembala yang meninggalkan 99 ekor domba untuk menyelamatkan satu domba yang hilang? Pernahkah Anda berpikir apa yang terjadi dengan 99 ekor domba lainnya? Apakah mereka tidak pergi dan kemudian hilang seperti satu domba itu? Saya yakin gembala yang diceritakan di kisah itu berhati-hati dengan 99 ekor domba lainnya dengan menjaganya baik-baik di kandangnya.

Saudara, berapapun jumlah anak-anak yang dipercayakan pada kita, mereka perlu “dijaga” dengan baik. Cara “menjaga” mereka? bangun HUBUNGAN dengan mereka. Jangan hanya sekedar melihat mereka sebagai data statistik yang memenuhi Sekolah Minggu Anda. Mereka punya nama, mereka punya tanggal ulang tahun, mereka punya masalah di sekolah mereka. Miliki database mereka, doakan mereka dan bangun hubungan dengan mereka.

Sekolah Minggu hanya memiliki waktu satu sampai dua jam sehari. Namun berapapun waktu yang dimiliki, Tuhan memberi Anda waktu untuk berinvestasi dalam kehidupan setiap anak-anak. Mari kita jadi pahlawan Tuhan yang bertanggungjawab dan pada akhirnya Tuhan akan berkata “hai kau hamba-Ku yang baik dan setia,…”

Selamat melayani, Pahlawan Tuhan

 

Yoanna Greissia

Anak-anak di Era Digital

“Anak-anak sekarang berbeda dengan anak-anak dahulu”

Tahukah Anda apa yang mendasari perbedaan yang terjadi? Mereka (dan juga kita saat ini) hidup di jaman digital. Seandainya kita hidup sejak kecil di jaman digital, dapat dipastikan bahwa kita akan menjadi sama seperti ‘anak-anak sekarang’.

Era digital adalah suatu masa di mana perkembangan teknologi demikian pesat dan pengetahuan dapat diperoleh dengan mudah baik dalam bidang ekonomi maupun sosial.

Anak-anak yang tumbuh pada era digital ini memiliki banyak pengalaman belajar dan bermain dengan teknologi baru seperti iPod, iPad, telepon pintar, facebook, dan banyak lagi. Tapi, hal yang mengkhawatirkan adalah, mereka kehilangan banyak jenis pembelajaran yang lain, interaksi fisik, dan kecerdasan emosi.

Dalam artikel kali ini kita akan membahas apa yang terjadi dengan anak-anak ini (dalam artikel berikutnya, kita akan membahas mengenai bagaimana mengajar anak-anak ini):

1. Anak-anak tidak lagi suka main di luar

Hopscotch

Anak-anak lebih suka main di dalam rumah sambil memegang peralatan elektronik mereka, duduk di depan komputer atau video games. Negara-negara Barat sudah menyadari hal ini dan pemerintah mereka berinvestasi begitu besar agar guru-guru dapat memotivasi siswa mereka untuk bermain di luar seperti petak umpet, hopscotch (permainan jingkat).

Ada banyak keuntungan jika anak mau main keluar dan menggunakan fisiknya. Mereka akan semakin sehat, lebih bahagia dan tidak akan mengalami kegemukan.

Di Indonesia, kita melihat masih banyak anak-anak di daerah pinggiran yang bermain keluar. Mereka bermain sepeda dan berlarian di jalan. Berbeda dengan “anak-anak kota” yang dibelikan gadget oleh orang tuanya.

2. Anak-anak tidak lagi belajar dengan Interaksi tatap muka

Bagaimana seorang bayi belajar berekspresi atau menunjukkan emosinya? Bagaimana mereka belajar bicara dan bahasa? Mereka melakukannya dengan mempelajari ekspresi wajah orang tuanya dan mereka mulai belajar menjadi mahluk sosial ketika mereka masuk PAUD dan sekolah.

Tapi apa yang terjadi sekarang?

Orang tua di era digital sibuk dengan peralatan elektroniknya dan tidak dapat diganggu. Mereka bahkan tidak ada waktu untuk melihat, tersenyum atau bercanda dengan anak-anak mereka sendiri! Lihatlah keluarga di restoran dan Anda akan melihat apa yang kami maksud.

Peringatan ini telah diberikan oleh banyak dokter anak. Salah satunya, Dr. Jenny Radesky, melakukan studi pada 55 kelompok orangtua ketika mereka makan di restoran cepat saji. Dia dan timnya menghabiskan musim semi melakukan observasi ini dan hampir semua orang tua perlu diingatkan untuk menjauhkan smartphone mereka dan memberikan perhatian pada anak-anak mereka. Hal ini sangat penting untuk perkembangan anak-anak.

3. Hubungan Orang tua-Anak Menjadi Renggang

Orang tua digital menganggap sepele peran orang tua dan ini tidak adil bagi anak-anak. Penggunaan peralatan elektronik memiliki dampak sangat buruk terhadap interaksi orang tua dengan anak. Orang tua beranggapan bahwa alat elektronik dapat menjadi substitusi mereka saat anak-anak butuh interaksi dan ini tidak baik. Selain itu, orang tua juga menjadi mudah marah ketika kegiatannya dengan peralatan elektronik mereka diinterupsi.

Dr. Wendy Sue Swanson, seorang dokter anak dari Rumah Sakit anak Seattle menganjurkan pada orang tua untuk membuat batasan dengan peralatan digital sehingga peran orang tua dapat dilakukan dengan baik. Demikian juga anak-anak harus dijauhkan dari peralatan elektronik yang membuat mereka lebih ‘menyayangi’ peralatan itu dibanding orang tua mereka.

4. Kemampuan Membaca Anak terpengaruh

Memang tidak banyak penelitian mengenai hal ini, tapi sebuah studi dilakukan oleh West Chester University menunjukkan bahwa anak yang membaca buku dengan kertas lebih memiliki pemahaman yang baik dari apa yang dibaca dibandingkan dengan anak yang membaca e-book. Anak yang membaca e-book cenderung membaca dengan melompat-lompat dan mudah teralihkan perhatiannya pada popups atau aplikasi lain.

5. Anak-anak tidak pernah bermain permainan papan (board games)

Hampir sepanjang waktu anak-anak di era digital bermain dengan games online. Apa yang terjadi dengan permainan papan (halma, monopoli, catur)? Ada banyak keuntungan ketika orang tua dan anak-anak memainkan permainan papan bersama:

  • Anak-anak belajar berhitung, matematika, membaca dan kosakata baru.
  • Orangtua dapat memiliki keterikatan dengan anak-anak
  • Anak belajar mengenai giliran, menerima kekalahan dan mengatasi kemenangan
  • Anak-anak akan lebih percaya diri, dan penghargaan pada dirinya meningkat
  • Anak-anak diajar mengenai kompetisi yang positif
  • Konsentrasi anak terlatih
  • Meningkatkan fokus dan perhatian anak

Walaupun banyak permainan dan aplikasi online di smarthone yang baik untuk membangun dan mengajar anak, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan interaksi manusia dengan manusia.

6. Anak-anak tidak tahu apa artinya persahabatan yang sejati

Ketika kita tumbuh, kita memiliki teman-teman, teman-teman yang nyata dan sebenarnya. Teman-teman virtual tidak benar-benar ada. Maksudnya, mereka ada tapi tidak terlihat ketika kita berkomunikasi. Kita tidak benar-benar mengenal kebanyakan dari teman-teman yang ada di facebook. Sebagian besar dari mereka hanya temannya teman yang kebetulan mengadd kita menjadi teman. Berkoneksi itu bagus dan hari ini, seorang remaja rata-rata mengirimkan 3000 pesan tertulis setiap bulannya.

TAPI… kelihatannya konsep pertemanan dan kedekatan menjadi berubah drastis dan hal ini kemudian akan sangat mempengaruhi HUBUNGAN. Penelitian di UCLA menunjukkan bahwa keterikatan digital sangat lemah, dibanding dengan interaksi tatap muka.

7. Anak-anak kehilangan kreativitas mereka

Trevor Baylis

Trevor Baylis, penemu Wind-Up Radio mengatakan bahwa ia takut anak-anak sekarang kehilangan kreativitasnya karena menghabiskan banyak waktunya di depan layar daripada mencoba segala sesuatu yang baru dengan tangan mereka.  Dia berkata mengenai merangkai / merakit sesuatu seperti moel aeroplane, dst. Anak-anak di era digital tidak pernah lagi memainkan permainan merakit seperti ini. Segala sesuatu sudah tersedia untuk mereka langsung gunakan.

8. Anak-anak tidak belajar EMPATI

Bertoleransi, memperhatikan dan mengendalikan emosi adalah life skill yang harus dikuasai dengan baik. Tapi anak-anak di era digital tidak mempelajari life skill ini sama sekali. Kita tidak bisa berempati dengan peralatan elektronik (setidaknya belum bisa). Cara terbaik untuk mempelajari life skill ini adalah bermain dengan anak-anak lain, dan belajar berbagi, menunggu giliran dan memberi. Apakah ada aplikasi untuk mempelajari itu?

9. Anak-anak tidak belajar mengenai nilai dan sikap

Kurangnya interaksi sosial yang sebenarnya dengan orang tua dan teman berarti mereka makin sedikit belajar tentang nilai-nilai dasar kehidupan seperti toleransi, kebaikan, kejujuran, kerajinan dan rasa hormat. Peralatan Elektronik baik untuk aktivitas belajar tapi hubungan orangtua-anak menjadi sangat lemah.

10. Anak-anak kurang tidur

Anak-anak di era digital ‘kehilangan waktu’ ketika mereka online. Mereka tidak ingat waktu , seolah-olah waktu terbuang begitu saja dengan percuma. Beda ketika mereka melakukan pekerjaan rumah tangga. Hal ini juga akan mempengaruhi mood mereka dan mereka menjadi mudah marah ketika diminta mematikan peralatan elektronik. Salah satu aspek yang paling serius adalah pengaruhnya di sekolah pada keesokan harinya.

11. Anak-anak kehilangan kemampuan logika dan bahasa

Anak-anak era digital memiliki keahlian luar biasa dalam seni dan hiburan, tapi kemampuan logika dan bahasa mereka tidak terlatih sama sekali. Mereka tidak dapat memahami perlunya berusaha untuk mendapatkan hasil, juga tidak dapat menemukan hubungan sebab akibat dari suatu permasalahan kehidupan yang terjadi.

Pertemanan secara virtual membuat mereka tidak dapat membedakan bagaimana cara berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau seumuran dengan mereka. Sementara orang tua atau guru di era digital merasa kehabisan waktu untuk mengajari hal semacam itu.

12. Anak-anak kecanduan online

Anak-anak di era digital seolah-olah tidak dapat hidup jika mereka tidak online. Bagaimana PR dapat dikerjakan tanpa melihat google? Atau bagaimana mengerjakan PR jika tidak bertanya pada teman lewat Whatsapp. Atau bagaimana menghabiskan waktu jika tidak memainkan permainan online.

Orang tua perlu berhati-hati dengan kecanduan ini. Mereka (orang tua) perlu menjadi teladan dan menjaga agar aktivitas online dan “tradisional” tetap terjaga dengan baik.

Ada beberapa tips untuk menjalankan keseimbangan ni:

  • Gunakan video call BERSAMA-SAMA untuk menghubungi nenek atau kakek
  • Mainkan video games BERSAMA-SAMA
  • Negosiasikan waktu istirahat BERSAMA antara orang tua dan anak dari peralatan elektronik (matikan semua peralatan elektronik atau simpan di tempat terpisah)
  • Main di luar ruangan BERSAMA-SAMA.

 

Era Digital tak dapat dihentikan dan peralatan digital adalah alat yang sangat baik untuk belajar dan hiburan. TAPI mereka perlu digunakan dengan HIKMAT dan KEHATI-HATIAN dan tidak untuk menggantikan interaksi tatap muka.

Berikutnya kita akan membahas:

  • Bagaimana menjadi orang tua di era digital
  • Bagaimana menjadi guru di era digital

Jadi, SUBSCRIBE blog ini yaa…!

 

diolah dari berbagai sumber

 

 

Bagaimana MERINTIS Sekolah Minggu

Apakah di gereja Anda ada pelayanan Sekolah Minggu? Seringkali Sekolah Minggu diadakan bersamaan waktunya dengan ibadah orang dewasa, di area yang terpisah. Kita semua menyadari bahwa anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa belajar banyak tentang Tuhan dengan mempelajari Firman-Nya (Alkitab). Hal inilah yang melatar belakangi munculnya “Sekolah Minggu” (atau jaman sekarang lebih sering disebut “Pelayanan Anak”).
Jika Anda begitu ingin memulai Pelayanan Anak ini, Anda dapat memulainya hanya dengan tempat pertemuan, Alkitab, dan beberapa anak (tentu saja, Anda juga membutuhkan tuntunan Roh Kudus!). Tapi kemudian, Anda akan menyadari bahwa Anda membutuhkan pemikiran lebih mendalam mengenai ‘apa yang ingin Anda capai’, bagaimana Anda ingin mencapainya, apa yang akan Anda ajarkan dan siapa yang akan membantu Anda.

Atau dengan kata lain, Anda perlu memberi perhatian pada beberapa hal di bawah ini:

TUJUAN

Apa tujuan dari pelayanan Anda? Apa yang Anda coba raih? Apa yang sedang Anda coba penuhi?

  • Apakah Anda mencoba membagikan Kabar Baik dari Injil?
  • Apakah Anda mencoba memuridkan orang yang sudah percaya?
  • Apakah Anda mencoba menyediakan tempat penitipan anak, hingga orang dewasa dapat melayani dan beribadah dengan lebih lancar?
  • Apakah Anda hanya sekedar mengumpulkan sebanyak mungkin anak untuk menghibur mereka?

PRIORITAS

Apa yang perlu Anda lakukan terlebih dahulu? Hal apa yang PALING penting?

  • Apa yang harus dilakukan, dengan urutan bagaimana, untuk hal yang paling penting ini?
  • Apa yang harus dilakukan kemudian?
  • dan selanjutnya, dan selanjutnya…

RENCANA

Suatu ringkasan mengenai BAGAIMANA Anda akan mencapai tujuan Anda dan melakukan prioritas Anda

  • Pikirkan mengenai pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
    • Siapa yang akan menjadi murid-murid Anda?
    • Siapa saja yang akan menjadi guru, administrator, dan penolong?
    • Pelayanan seperti apa yang Anda harapkan?
    • Apa saja yang akan Anda pelajari untuk melakukan tugas dan tanggungjawab ini?
    • Dimana dan kapan Anda akan melakukan pertemuan?
    • Bagaimana Anda akan membayar pengeluaran yang mungkin terjadi?

PASTOR / PENDETA

Dalam setiap organisasi gereja, ada sebuah hierarki otoritas

  • Diskusikan ide dan jawaban-jawaban Anda akan pertanyaan di atas dengan Pendeta Anda dan / atau pemimpin gereja lain yang terkait
  • Kepada siapa Anda akan mempertanggungjawabkan peran pelayanan yang baru ini
  • Untuk siapa Anda bertanggungjawab dalam peran pelayanan yang baru ini

JALUR


Apa yang murid-murid perlukan? Apa yang akan Anda pelajari?

  • Berapa rentang usia murid-murid Anda
  • Apakah mereka orang-orang percaya?
  • Apa yang sudah mereka tahu tentang Tuhan?
  • Berapa banyak mereka tahu tentang Firman Tuhan(bersambung)

ps: berikutnya kita akan membahas satu persatu mengenai Tujuan, Prioritas, Rencana, Pastor / Pendeta dan Jalur ini… Jadi.. SUBSCRIBE ya!!

 

diolah dari berbagai sumber

Tingkat Kemampuan Anak berdasarkan Usia (ed 3)

Setelah membahas kemampuan anak sampai usia 7 tahun, hari ini kita akan melanjutkan bahasan kita mengenai tingkat kemampuan anak berdasarkan usianya. Kita sudah belajar tingkat kemampuan anak usia 8 – 10 tahun. Deskripsi di bawah ini dapat membantu Saudara dalam menyiapkan kelas, materi, craft, ataupun games untuk anak-anak usia 8 – 10 tahun di kelas Saudara.

  • Tujuan pengajaran untuk anak usia 8 – 10 tahun adalah:
    • Penerimaan diri; belajar tentang kekuatan dan talenta
    • Berteman; belajar tentang bagaimana bersama dengan orang lain
    • Memahami bahwa setiap orang berbeda – menerima perbedaan
  • Mulai belajar tentang peran mereka dalam masyarakat, tanggungjawab dalam keluarga, teman-teman

  • Pembaca pemula – mampu membaca dan memahami informasi
    • Belajar untuk membuka dan membaca Alkitab
    • Mampu menyalin ayat dari Alkitab ke buku teks
    • Mampu menjawab pertanyaan tertulis dengan jawaban singkat
    • Bermain permainan menyusun kata
    • Belajar menuliskan paragraf dan membuat laporan lisan
  • Belajar melakukan tugas-tugas dengan tipe berbeda baik di rumah maupun sekolah
  • Dapat memainkan permainan kelompok yang kompleks, bahkan yang kompetitif (sepak bola, voli, basket)
  • Memiliki keahlian motorik yang baik
    • Sangat baik bekerja dengan gunting dan lem
    • Dapat melakukan pekerjaan detil dan proyek craft yang lebih detil
    • Dapat belajar pelajaran dasar menjahit, merajut, memasak, membuat kue
    • Dapat belajar menggunakan palu, obeng, gergaji, dll
  • Dapat bermain teka-teki kata dan permainan angka
  • Dapat mengingat kitab-kitab dalam Alkitab, nama-nama murid dll
  • Dapat mengingat bagian panjang dalam Alkitab (contoh: Mazmur 23, Doa Bapa Kami)
  • Belajar untuk bermain sendiri maupun kelompok
  • Dapat mulai memahami sejarah Alkitab
  • Pesan Rohani yang harus disampaikan:
    • Pesan keselamatan
    • Kita dapat menerima Yesus sebagai Juruselamat
    • Tuhan mengasihimu dan orang lain juga
    • Tuhan mengetahui seluruhnya tentang kamu dan mengasihi kamu apa adanya
    • Tuhan memiliki rencana yang luar biasa dalam hidupmu
    • Tuhan tidak akan pernah meninggalkan atau melupakanmu
    • Kamu dapat mempercayai Tuhan
    • Tuhan itu Maha Kuasa, Maha Tahu dan Maha Hadir
    • Tidak ada yang dapat kamu lakukan yang dapat membuat Tuhan MAKIN mencintaimu atau KURANG mencintaimu
    • Yesus adalah satu-satunya jalan
    • Kita diselamatkan karena Kasih Karunia (karena Tuhan begitu baik), dan bukan karena usaha kita (atau apa yang kita lakukan).
    • Kamu dapat bersaksi mengenai kasih Tuhan dan apa yang Tuhan lakukan dalam hidupmu.

Anak, Asset Gereja dan Dunia

From the desk of Rev. Dr. Benijanto Sugihono, SH, M.Th

Ketakutan terbesar dunia saat ini adalah “The Lost Generation”, sebuah ketakutan akan masa depan dunia akan punahnya umat manusia (sekalipun saat ini, dilihat dari sisi jumlah manusia, dunia mengalami peningkatan akibat kelahiran).  Dari sisi itu, dunia agaknya tidak perlu kuatir akan terjadinya kepunahan umat manusia.  Namun, jangan berpuas diri dulu, sebab ketakutan yang sedang membayangi dunia bukan karena jumlah secara kuantitatif, tetapi penurunan kualitas manusia itu sendiri.

Gaya hidup manusia yang semakin egois dan tidak peduli dengan dirinya sendiri, membuat kehidupan manusia terancam akan mengalami kemunduran total dan bisa-bisa manusia kembali ke jaman kanibalisme.  Mengetahui ancaman yang ada, maka dunia mulai berpikir bagaimana mengambil langkah preventif (pencegahan), sehingga ketakutan itu dapat dihindari.  Ada berbagai macam cara ditempuh, mulai dari mengadakan seminar, pelatihan, simposium, bahkan sampai kepada konperensi tingkat Internasional, yang semuanya bertujuan meningkatkan kualitas manusia secara utuh dan menyeluruh.

Namun, beberapa ahli mengatakan bahwa upaya untuk meningkatkan kualitas manusia dengan sasaran mereka yang sudah dewasa, hanya memberikan dampak tidak lebih dari 40%, selebihnya pembentukan masa kecil tidak bisa diubah secara drastis.  Artinya bahwa pelatihan dan pembinaan yang dilakukan terhadap orang-orang dewasa, hanya berdampak sangat kecil terhadap kepribadian orang tersebut, sebab apa yang dibentuk di masa kecilnya menjadi sesuatu yang sangat melekat dan sukar diubahkan.  Continue reading

Pahlawan yang Lelah

image

“Anak-anak sekarang tidak seperti anak-anak jaman dulu” merupakan kalimat yang sering kita dengar dari mulut guru-guru Sekolah Minggu.

“Mereka sekarang sulit disuruh bernyanyi, sulit duduk diam, selalu memainkan gadget, terlalu kritis, selalu protes”

Benar! Lingkungan sedikit banyak memang berpengaruh pada diri anak-anak (bahkan tidak hanya anak, orang dewasa pun terpengaruh). Tapi sebenarnya, anak-anak tetap sama. Mereka memiliki potensi diajar yang luar biasa, mereka mudah menyerap apapun, mereka suka gambar, bermain, menggerakkan tubuh, dan mereka memiliki potensi belajar tentang Tuhan.

Sebenarnya yang berubah adalah kita, guru-guru Sekolah Minggu yang sudah mengajar bertahun-tahun. Kebanyakan dari kita menjadi letih, lelah, jenuh dengan rutinitas mingguan kita. Kita mulai mengurangi porsi demi porsi yang seharusnya kita berikan pada anak-anak.

Kelas persiapan menjadi terlalu melelahkan bagi kesibukan kita. Kita berdalih “daripada susah-susah bertemu untuk kelas persiapan, sebaiknya membuat group di whatsapp”.

Training Guru Sekolah Minggu dinilai terlalu merepotkan. Kita berdalih “daripada susah-susah membuat jadwal training, sebaiknya mereka yang baru belajar dari kita yang lama (yang sebenarnya sudah kelelahan mengajar)”

Alat peraga dinilai terlalu menyulitkan untuk dibuat. Kita berdalih “untuk apa ada teknologi multimedia yang memudahkan kita. Lagipula anak-anak suka menonton”

Kreativitas menjadi sebuah kata yang sulit dideskripsikan setelah banyak sumber tersedia di youtube dan dunia maya. Alih-alih mencari alat peraga yang sesuai dengan bahan ajar, kita membuat bahan ajar yang sesuai dengan alat peraga yang (kebetulan) kita temukan di jejaring sosial.

image

Guru pendatang di dunia Sekolah Minggu bingung dengan “bagaimana yang seharusnya”. Mereka berpikir begitulah yang biasa dilakukan. Tanpa kita sadari kualitas guru semakin lama semakin menurun.

Belum lagi hambatan yang ada baik dari dalam maupun luar organisasi gereja. Kurangnya pemain musik, ruang Sekolah Minggu yang tidak memadai, kurangnya guru Sekolah Minggu, kurangnya budget untuk Sekolah Minggu, gadget yang selalu dipegang anak, orang tua yang sulit kooperatif merupakan contoh dari masalah yang dihadapi Guru Sekolah Minggu.

Guru Sekolah Minggu yang dikasihi Tuhan, dunia ini membuat kita lelah. Mengajar bertahun-tahun membuat kita jenuh. Keterbatasan membuat kita putus asa. Hambatan membuat kita apatis.

Saudara, jerih lelah Anda tidak sia-sia! Untuk setiap keringat yang Anda keluarkan, Tuhan memperhitungkannya. Untuk setiap air mata yang mengalir, Tuhan menampungnya. Untuk setiap hati yang terluka, Tuhan memiliki obatnya.

Namun kita tidak bisa melayani anak-anak dengan kelelahan, kejenuhan dan hati yang patah. Tuhan Yesus berkata “barangsiapa menyambut seorang anak di dalam nama-Ku, ia menyambut Aku” (Matius 18:5).

Ya, saat kita menyambut anak, kita menyambut Yesus. Bagaimana Saudara ingin menyambut Yesus?

image

Alkitab mengajarkan kita cara mengatasi kelelahan:
“Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru; mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah”

Saudara mungkin berkata “Ya, kami tahu… tapi apa yang harus kami lakukan agar kami tidak lelah dan jenuh?”

Tulisan-tulisan berikutnya akan berisi tips-tips dan informasi yang akan memperlengkapi Saudara dalam melayani. Namun dalam tulisan ini, ada empat hal dasar yang dapat mengatasi kelelahan Saudara:

1. Andalkan Tuhan, nantikanlah Dia. Saudara akan kehabisan tenaga ketika mengandalkan kekuatan sendiri. Sebaliknya, Saudara akan mendapat kekuatan baru ketika Saudara mengandalkan kekuatan Tuhan.

2. Ingat bahwa anak-anak ini adalah milik pusaka Tuhan (Mazmur 127:3) dan saat Saudara menyambut mereka, Saudara sedang menyambut Tuhan.

3. Sadari tujuan pelayanan Saudara. Saudara sedang investasi dalam hidup setiap anak. Saudara kemungkinan besar mempengaruhi masa depan mereka. Jika tanggungjawab itu Tuhan berikan ke tangan Saudara, apa yang akan Saudara lakukan?

4. Perlengkapi diri untuk melayani dengan EFEKTIF! Saat kita melayani dengan tepat sasaran, rasa lelah kita akan berganti sukacita. Namun, hati saja tidak cukup untuk dapat melayani dengan efektif, Saudara harus memiliki hati yang mau BELAJAR.

Dari tulisan sebelumnya kita sudah belajar mengenai bagaimana menjadi Guru Sekolah Minggu (mulai dari basic, luar biasa, hingga berhasil). Kita juga sedang belajar mengenai tingkat kemampuan anak berdasarkan usia.

Tulisan-tulisan berikutnya kita akan belajar:
1. Manajemen Kelas
2. Mengajar dengan efektif
3. Mengajar dengan kreatif

Bagi Saudara yang memiliki ide atau masukan mengenai materi yang ingin dibahas, bisa mengisi kolom comment di bawah ini.
Sampai jumpa di tulisan berikutnya! Tuhan menyertai engkau, Ya Pahlawan yang gagah berani.