Ciuman anak-anak?

Mencium adalah bentuk dari kasih sayang, dan banyak anak-anak mencium orang lain untuk menunjukkan rasa sayangnya. Anak-anak suka dicium karena itu artinya ada seseorang yang peduli dan memperhatikan mereka. Mencium Papa, Mama, Kakek, Nenek dan anggota keluarga lainnya adalah hal yang dapat diterima dan wajar, tapi Anda mungkin tidak mau anak atau siswa Anda mencium temannya di kelas atau tempat bermainnya.

Ketika hal ini terjadi, jangan panik!! Lakukan langkah-langkah yang diperlukan untuk mengajar anak Anda bahwa ada saat dan tempat untuk mencium orang lain.

CIUMAN ANAK-ANAK

Anak-anak sering melihat orang dewasa mencium dan banyak di antara mereka menerima ciuman dari orang tua dan orang dewasa lainnya. Hal ini membuat mereka berpikir bahwa ciuman adalah suatu hal yang wajar dan sesuatu yang orang lakukan untuk menunjukkan cinta. Maka tidak heran jika ada anak yang mencium anak lainnya di temoat bermain (atau mungkin juga di kelas).

Kebanyakan kasus yang melibatkan anak balita, ciuman yang diberikan adalah murni dan cara sederhana untuk menunjukkan bagaimana ia sangat peduli dan sayang pada temannya. Menurut Jaringan Kesahatan Wanita dan Anak Internasional, tidak perlu kuatir berlebihan ketika Anda melihat ada anak yang mencium temannya (atau saling mencium), tapi mereka perlu diajak bicara. Dia perlu tahu (apalagi jika dia sudah menginjak ora remaja) bahwa ada batasan dalam menunjukkan kasih sayang pada orang lain di luar anggota keluarga. 

BAHAYA MENCIUM

Anak-anak, seperti juga orang dewasa, memiliki kuman. Ketika meteka mencium orang lain, mereka memindahkan kuman-kuman itu. Mereka bisa tertular atau menukarkan virus flu atau bahkan penyakit serius lainnya.

Ketika anak-anak saling mencium, mereka bisa saling mentransferkan virus yang dapat membuat mereka sakit demam, atau bahkan penyakit parah lainnya. Virus itu mungkin tidak membuat anak lain sakit, tapi setiap orang memiliki imun atau daya tahan tubuh yang berbeda.

EFEK LAIN MENCIUM

Untuk anak-anak yang masih sangat kecil, ciuman di pipi atau bahkan di bibir merupakan hal biasa. Kebanyakan anak-anak tidak mengaitkan antara ciuman dan seksualitas. Bagi mereka mencium hanyalah cara sederhana menunjukkan pada teman bahwa ia peduli. 

Namun, jika anak menginjak usia pra remaja dan remaja, Anda perlu bicara serius jika mereka mencium anak lainnya. Karena pada usia tersebut, anak sudah menginjak pubertas dan mulai menunjukkan ketertarikan pada lawan jenis.

Karena mencium seringkali berhubungan dengan perilaku seksual, maka jika Anda guru, Anda perlu bicara dengan orang tua anak yang bersangkutan jika menemukan hal ini terjadi di kelas Anda.

Jika Anda adalah orangtua, maka Anda perlu bicara pada anak-anak anda mengenai apa yang dapat diterima dan yang tidak. Misalkan, Anda bisa mengatakan bahwa ciuman singkat di pipi dapat di terima, tapi tidak ciuman di bagian tubuh yang lain. Atau mungkin Anda dapat mengatakan bagaimana memberikan perhatian dan kasih sayang tanpa harus mencium.

TIPS DAN PERTIMBANGAN

Jika anak-anak Anda masih usia taman kanak-kanak atau kelas-kelas awal Sekolah Dasar, Anda cukup bicara mengenai siapa saja yang dapat ia cium dan siapa yang tidak. Jangan membuat anak-anak berpikir ia dalam masalah karena nantinya ia akan mengira mencium adalah sesuatu yang buruk (juga jangan membohongi anak dengan lelucon berbau seksualitas seperti “awas lho, nanti kalau dicium bisa hamil”. Ini sangat TERLARANG).

Katakan pada anak-anak bahwa mencium hanyakah untuk anggota keluarga. Mereka bisa memberi pelukan atau tos (high five) untuk menunjukkan kepedulian dan kasih sayang pada teman mereka.

Ajari mereka untuk tidak membiarkan seorang pun menyentuh anggota tubuh mereka tanpa ijin dari mereka, dan pastikan Anda, orang tua atau guru, merupakan orang pertama yang mereka datangi ketika mereka mersa tidak nyaman dengan sentuhan teman-teman mereka. 

Jika ada anak yang datang pada Anda dan menceritakan bahwa mereka dicium paksa atau dipaksa mencium orang lain yang tidak mereka inginkan, jangan memarahi mereka dan yakinkan anak-anak Anda bahwa mereka tidak salah, kemudia cari siapa saja yang terlibat sehingga Anda dapat menyelesaikan masalah dengan baik.

Advertisements

Jumlah Anak Sekolah Minggu Berkurang?

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa jumlah anak-anak yang menghadiri Sekolah Minggu berkurang secara drastis. Anda bisa melihat isi dari penelitiannya di sini. Saya akan merangkum penelitian tersebut dalam sebuah diagram seperti ini:

Bagaimana dengan di Indonesia?

Berdasarkan hasil penelitian saya pribadi, baik melalui kunjungan saat pelayanan maupun bicara dengan beberapa Guru Sekolah Minggu, hal yang serupa terjadi di Indonesia. Jumlah Anak Sekolah Minggu berkurang dibandingkan dengan beberapa dekade yang lalu, katakanlah tahun 1980 – 1990 an.

Kemana perginya anak-anak ini?

Anda tentu tidak akan merasa terkejut kalau saya katakan anak-anak ini tidak kemana-mana. Orang tua merasa tidak perlu lagi “menitipkan” anaknya di Sekolah Minggu selama mereka ibadah karena mereka mempunyai gadget, sebuah peralatan canggih yang dapat membuat anak-anak mereka tidak lagi “bikin ribut” di ruang ibadah.

Solusinya…, banyak guru sekolah minggu kemudian mencoba melakukan banyak hal agar Sekolah Minggu menarik perhatian anak, namun rupanya di luar sana banyak hal yang lebih menarik perhatian anak-anak. Permainan game online yang mengharuskan pemainnya selalu online rupanya bisa membuat gambar yang lebih menarik dan tantangan-tantangan baru setiap hari.

Rekan Guru Sekolah Minggu, jika kita tidak melakukan sesuatu, maka di masa depan, gereja akan mengalami “krisis Pelayan Tuhan”. Siapa yang akan melayani anak-anak beberapa dekade dari sekarang?

Namun pertanyaan besarnya adalah apa itu “sesuatu” yang bisa kita lakukan?

Ada sebuah lagu Sekolah Minggu yang selalu saya ingat, “Dia harus makin bertambah, ku harus makin berkurang. Nama Yesus saja disembah, ku di tempat paling b’lakang. Bila Yesus ditinggikan dan salib-Nya dic’ritakan, pasti Dia menarik semua orang datang kepada-Nya s’karang”

Saudara, memperlombakan program Sekolah Minggu dengan program sekuler dan gadget tidak akan pernah berhasil. Satu-satunya cara membuat anak-anak itu datang kepada Tuhan adalah dengan memposisikan Tuhan di tempat yang benar, artinya menjadikan Tuhan sebagai prioritas dalam Sekolah Minggu kita. Bukan permainan menarik, bukan dekorasi, bukan hadiah yang keren, tapi tempatkan TUHAN sebagai prioritas dan “daya tarik” bagi anak-anak.

Selanjutnya, Anda mungkin bisa meminta dukungan dari Gembala di gereja Anda untuk memberi pengertian pada orang tua mengenai “pentingnya anak-anak berjemaat dan bersekutu bersama Saudara seiman sejak kecil”.

Hal berikutnya adalah dengan membangun hubungan. Pernahkah Anda mendengar tentang gembala yang meninggalkan 99 ekor domba untuk menyelamatkan satu domba yang hilang? Pernahkah Anda berpikir apa yang terjadi dengan 99 ekor domba lainnya? Apakah mereka tidak pergi dan kemudian hilang seperti satu domba itu? Saya yakin gembala yang diceritakan di kisah itu berhati-hati dengan 99 ekor domba lainnya dengan menjaganya baik-baik di kandangnya.

Saudara, berapapun jumlah anak-anak yang dipercayakan pada kita, mereka perlu “dijaga” dengan baik. Cara “menjaga” mereka? bangun HUBUNGAN dengan mereka. Jangan hanya sekedar melihat mereka sebagai data statistik yang memenuhi Sekolah Minggu Anda. Mereka punya nama, mereka punya tanggal ulang tahun, mereka punya masalah di sekolah mereka. Miliki database mereka, doakan mereka dan bangun hubungan dengan mereka.

Sekolah Minggu hanya memiliki waktu satu sampai dua jam sehari. Namun berapapun waktu yang dimiliki, Tuhan memberi Anda waktu untuk berinvestasi dalam kehidupan setiap anak-anak. Mari kita jadi pahlawan Tuhan yang bertanggungjawab dan pada akhirnya Tuhan akan berkata “hai kau hamba-Ku yang baik dan setia,…”

Selamat melayani, Pahlawan Tuhan

 

Yoanna Greissia

Bagaimana MERINTIS Sekolah Minggu

Apakah di gereja Anda ada pelayanan Sekolah Minggu? Seringkali Sekolah Minggu diadakan bersamaan waktunya dengan ibadah orang dewasa, di area yang terpisah. Kita semua menyadari bahwa anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa belajar banyak tentang Tuhan dengan mempelajari Firman-Nya (Alkitab). Hal inilah yang melatar belakangi munculnya “Sekolah Minggu” (atau jaman sekarang lebih sering disebut “Pelayanan Anak”).
Jika Anda begitu ingin memulai Pelayanan Anak ini, Anda dapat memulainya hanya dengan tempat pertemuan, Alkitab, dan beberapa anak (tentu saja, Anda juga membutuhkan tuntunan Roh Kudus!). Tapi kemudian, Anda akan menyadari bahwa Anda membutuhkan pemikiran lebih mendalam mengenai ‘apa yang ingin Anda capai’, bagaimana Anda ingin mencapainya, apa yang akan Anda ajarkan dan siapa yang akan membantu Anda.

Atau dengan kata lain, Anda perlu memberi perhatian pada beberapa hal di bawah ini:

TUJUAN

Apa tujuan dari pelayanan Anda? Apa yang Anda coba raih? Apa yang sedang Anda coba penuhi?

  • Apakah Anda mencoba membagikan Kabar Baik dari Injil?
  • Apakah Anda mencoba memuridkan orang yang sudah percaya?
  • Apakah Anda mencoba menyediakan tempat penitipan anak, hingga orang dewasa dapat melayani dan beribadah dengan lebih lancar?
  • Apakah Anda hanya sekedar mengumpulkan sebanyak mungkin anak untuk menghibur mereka?

PRIORITAS

Apa yang perlu Anda lakukan terlebih dahulu? Hal apa yang PALING penting?

  • Apa yang harus dilakukan, dengan urutan bagaimana, untuk hal yang paling penting ini?
  • Apa yang harus dilakukan kemudian?
  • dan selanjutnya, dan selanjutnya…

RENCANA

Suatu ringkasan mengenai BAGAIMANA Anda akan mencapai tujuan Anda dan melakukan prioritas Anda

  • Pikirkan mengenai pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
    • Siapa yang akan menjadi murid-murid Anda?
    • Siapa saja yang akan menjadi guru, administrator, dan penolong?
    • Pelayanan seperti apa yang Anda harapkan?
    • Apa saja yang akan Anda pelajari untuk melakukan tugas dan tanggungjawab ini?
    • Dimana dan kapan Anda akan melakukan pertemuan?
    • Bagaimana Anda akan membayar pengeluaran yang mungkin terjadi?

PASTOR / PENDETA

Dalam setiap organisasi gereja, ada sebuah hierarki otoritas

  • Diskusikan ide dan jawaban-jawaban Anda akan pertanyaan di atas dengan Pendeta Anda dan / atau pemimpin gereja lain yang terkait
  • Kepada siapa Anda akan mempertanggungjawabkan peran pelayanan yang baru ini
  • Untuk siapa Anda bertanggungjawab dalam peran pelayanan yang baru ini

JALUR


Apa yang murid-murid perlukan? Apa yang akan Anda pelajari?

  • Berapa rentang usia murid-murid Anda
  • Apakah mereka orang-orang percaya?
  • Apa yang sudah mereka tahu tentang Tuhan?
  • Berapa banyak mereka tahu tentang Firman Tuhan(bersambung)

ps: berikutnya kita akan membahas satu persatu mengenai Tujuan, Prioritas, Rencana, Pastor / Pendeta dan Jalur ini… Jadi.. SUBSCRIBE ya!!

 

diolah dari berbagai sumber

Menjadi Guru Sekolah Minggu yang BERHASIL (Konsep Anak Panah)

Seorang raja besar yang berasal dari keluarga yang berantakan pernah berkata

“Seperti anak-anak panah di tangan pahlawan, demikianlah anak-anak pada masa muda. Berbahagialah orang yang telah membuat penuh tabung panahnya dengan semuanya itu. Ia tidak akan mendapat malu, apabila ia berbicara dengan musuh-musuhnya di pintu gerbang.” (Mazmur 127:4-5)

Ya, Salomo adalah anak dari Raja Daud, seorang Raja dengan banyak istri dan anak-anak yang membangkang. Dia tahu benar bahwa jika seorang anak tidak dididik dengan baik, maka orang tuanya akan mendapat malu. Lihat saja kakaknya Absalom yang benar-benar membuat ayahnya malu, belum lagi Amnon yang memperkosa adiknya sendiri. Continue reading