Jumlah Anak Sekolah Minggu Berkurang?

Sebuah penelitian yang dilakukan di Amerika menunjukkan bahwa jumlah anak-anak yang menghadiri Sekolah Minggu berkurang secara drastis. Anda bisa melihat isi dari penelitiannya di sini. Saya akan merangkum penelitian tersebut dalam sebuah diagram seperti ini:

Bagaimana dengan di Indonesia?

Berdasarkan hasil penelitian saya pribadi, baik melalui kunjungan saat pelayanan maupun bicara dengan beberapa Guru Sekolah Minggu, hal yang serupa terjadi di Indonesia. Jumlah Anak Sekolah Minggu berkurang dibandingkan dengan beberapa dekade yang lalu, katakanlah tahun 1980 – 1990 an.

Kemana perginya anak-anak ini?

Anda tentu tidak akan merasa terkejut kalau saya katakan anak-anak ini tidak kemana-mana. Orang tua merasa tidak perlu lagi “menitipkan” anaknya di Sekolah Minggu selama mereka ibadah karena mereka mempunyai gadget, sebuah peralatan canggih yang dapat membuat anak-anak mereka tidak lagi “bikin ribut” di ruang ibadah.

Solusinya…, banyak guru sekolah minggu kemudian mencoba melakukan banyak hal agar Sekolah Minggu menarik perhatian anak, namun rupanya di luar sana banyak hal yang lebih menarik perhatian anak-anak. Permainan game online yang mengharuskan pemainnya selalu online rupanya bisa membuat gambar yang lebih menarik dan tantangan-tantangan baru setiap hari.

Rekan Guru Sekolah Minggu, jika kita tidak melakukan sesuatu, maka di masa depan, gereja akan mengalami “krisis Pelayan Tuhan”. Siapa yang akan melayani anak-anak beberapa dekade dari sekarang?

Namun pertanyaan besarnya adalah apa itu “sesuatu” yang bisa kita lakukan?

Ada sebuah lagu Sekolah Minggu yang selalu saya ingat, “Dia harus makin bertambah, ku harus makin berkurang. Nama Yesus saja disembah, ku di tempat paling b’lakang. Bila Yesus ditinggikan dan salib-Nya dic’ritakan, pasti Dia menarik semua orang datang kepada-Nya s’karang”

Saudara, memperlombakan program Sekolah Minggu dengan program sekuler dan gadget tidak akan pernah berhasil. Satu-satunya cara membuat anak-anak itu datang kepada Tuhan adalah dengan memposisikan Tuhan di tempat yang benar, artinya menjadikan Tuhan sebagai prioritas dalam Sekolah Minggu kita. Bukan permainan menarik, bukan dekorasi, bukan hadiah yang keren, tapi tempatkan TUHAN sebagai prioritas dan “daya tarik” bagi anak-anak.

Selanjutnya, Anda mungkin bisa meminta dukungan dari Gembala di gereja Anda untuk memberi pengertian pada orang tua mengenai “pentingnya anak-anak berjemaat dan bersekutu bersama Saudara seiman sejak kecil”.

Hal berikutnya adalah dengan membangun hubungan. Pernahkah Anda mendengar tentang gembala yang meninggalkan 99 ekor domba untuk menyelamatkan satu domba yang hilang? Pernahkah Anda berpikir apa yang terjadi dengan 99 ekor domba lainnya? Apakah mereka tidak pergi dan kemudian hilang seperti satu domba itu? Saya yakin gembala yang diceritakan di kisah itu berhati-hati dengan 99 ekor domba lainnya dengan menjaganya baik-baik di kandangnya.

Saudara, berapapun jumlah anak-anak yang dipercayakan pada kita, mereka perlu “dijaga” dengan baik. Cara “menjaga” mereka? bangun HUBUNGAN dengan mereka. Jangan hanya sekedar melihat mereka sebagai data statistik yang memenuhi Sekolah Minggu Anda. Mereka punya nama, mereka punya tanggal ulang tahun, mereka punya masalah di sekolah mereka. Miliki database mereka, doakan mereka dan bangun hubungan dengan mereka.

Sekolah Minggu hanya memiliki waktu satu sampai dua jam sehari. Namun berapapun waktu yang dimiliki, Tuhan memberi Anda waktu untuk berinvestasi dalam kehidupan setiap anak-anak. Mari kita jadi pahlawan Tuhan yang bertanggungjawab dan pada akhirnya Tuhan akan berkata “hai kau hamba-Ku yang baik dan setia,…”

Selamat melayani, Pahlawan Tuhan

 

Yoanna Greissia

Lagu Baru : “untuk Yesus”

Ini dia lagu baru untuk bulan Juni, judulnya “untuk Yesus”.  Lagu ini pertama kali dinyanyikan pada Konser “the Shorty Zacch” tanggal 21 Mei 2016. Yes!! Ini lagu yang benar-benar BARU, diciptakan oleh Kak Greis untuk seluruh anak-anak yang mengasihi Tuhan Yesus di Indonesia. Sejak itu, ada banyak permintaan agar lagu ini bisa diperoleh dengan mudah untuk siapa saja yang mau mempelajarinya.

Ada beberapa kebingungan saat memberi judul lagu ini, sampai akhirnya diputuskan judul yang tepat “UNTUK YESUS”, karena toh memang semua yang kita lakukan adalah UNTUK YESUS.

Kredit diberikan kepada Kak Bertholomew Yan Putra untuk arrangement musiknya yang luar biasa, untuk Kak Steeven Adrian dan Kak Yovita Mercya yang memimpin anak-anak menyanyikan lagu ini, Om Andreas Aryanto yang sudah mengarahkan vocal anak-anak dan untuk Anoint Singer (Jessica, Gloria, Lidya, Ella, dan Ega).

Ini dia lagunya… (untuk liriknya, Saudara bisa klik di sini). Oya untuk mendownload silahkan klik tanda download yang ada di kanan atas box.

 

Kami ingin mengenal Saudara yang sudah mampir dan mendownload lagu ini untuk itu Saudara bisa mengisi buku tamu di bawah ini. Oya, kami ingin tahu berapa banyak yang diberkati dan mendownload lagu ini karena hal itu benar-benar menjadi dukungan bagi kami dalam produksi lagu berikutnya.

Jadi, jika Saudara ingin membagikan lagu ini, kami sangat berharap jika Saudara tidak membagikan langsung lagu yang sudah Saudara download, melainkan dengan membagikan link –>

https://sekolahminggu.org/2016/06/06/lagu-baru-untuk-yesus/

 

 

ps: Doakan agar dalam waktu dekat kami bisa release lagu dalam bentuk VIDEO agar Saudara tidak hanya bisa belajar lagunya, tapi juga gerakannya.

Lagu Baru “Semua Mungkin”

Kami mohon maaf karena lagu baru untuk bulan Mei baru dibagikan pada awal bulan Juni ini.  Bulan lalu, “Ini Mataku” didownload sebanyak lebih dari 200 kali. Kami sangat berharap lagu “Semua Mungkin” ini dapat menjadi berkat juga untuk semua anak-anak yang Tuhan Yesus kasihi di Indonesia.

Saudara dapat menyanyikannya di Sekolah Minggu Saudara dengan kreasi gerakan yang Saudara dan tim Saudara buat sendiri, merekamnya, menguploadnya di youtube dan menshare linknya di comment di bawah ini…

Sekali lagi, jika Saudara ingin membagikan lagu ini, kami akan sangat menghargai jika Saudara membagikan link ini, dan bukannya langsung membagikan lagu yang sudah Saudara download.

Baiklah, selamat belajar lagu baru, silahkan klik link berikut ini –> SEMUA MUNGKIN

Lirik:

SEMUA MUNGKIN
Composed by Yoanna Greissia
dinyanyikan oleh Anoint Children Choir

Tidak mungkin yang lumpuh dapat berjalan
Tidak mungkin yang buta melihat
Tidak mungkin yang mati dapat hidup lagi

Jika Yesus yang melakukan
TAK ADA yang mustahil
Dia Tuhan atas semesta
Nama-Nya berkuasa

Semua mungkin yang lumpuh dapat berjalan
Semua mungkin yang buta melihat
Semua mungkin yang mati dapat hidup lagi

Jelaskan pada anak-anak Sekolah Minggu Anda bahwa bagi Yesus tidak ada yang mustahil. Jika DIA dapat mencelikkan yang buta, membuat orang lumpuh berjalan, bahkan membangkitkan orang mati, DIA dapat menyembuhkan segala penyakit mereka dan dapat membantu mereka mengatasi setiap masalah yang mereka hadapi.

Saudara dapat langsung mengganti kata “tidak mungkin” pada bait pertama dengan “semua mungkin”, atau tetap mempertahankan “tidak mungkin” sebagai variasi, namun dengan memberikan penjelasan yang benar pada mereka.

SELAMAT MELAYANI, PAHLAWAN YANG GAGAH PERKASA!

Mengajar di Era Digital

Mengajar di era digital tentu berbeda dengan mengajar pada era sebelumya. Kini teknologi memungkinkan siswa mendapatkan seluruh pengetahuan yang ada di dunia bahkan tanpa perlu pergi ke sekolah, hanya bertekad kemauan dan inisiatif dari siswa saja. Bahkan keahlian pun dapat dipelajari melalui internet. Buka saja youtube dan Anda bisa mempelajari banyak skill tanpa repot-repot harus les atau mendaftar kursus.

Teknologi seolah menjadi pesaing berat sekolah dalam banyak hal. Tidak percaya? Mari kita lihat beberapa keunggulan “teknologi” dibanding sekolah:

Metoda Pembelajaran Seragam vs Kustomisasi

Sekolah kebanyakan (terutama di Indonesia) menekankan pembelajaran seragam untuk seluruh siswanya. Seluruh siswa harus mengikuti pelajaran yang sama tanpa terkecuali. Suka tidak suka, seluruh siswa harus belajar mengenai seni, matematika, bahasa, fisika, biologi dan banyak lagi. Bukannya bertujuan meningkatkan kecerdasan, kini sekolah justru sibuk dengan mengejar target akademis.

Bandingkan dengan teknologi yang menyediakan banyak informasi dan mengakomodir keingintahuan siswa dengan lebih mendalam (bahkan lebih mendalam dari apa yang diajarkan di sekolah). Siswa yang tertarik dengan biologi misalnya, dapat dengan mudah mengunduh banyak sekali sumber dari berbagai negara untuk memperkaya pengetahuannya dan memuaskan ketertarikannya.

Guru sebagai Ahli vs Sumber Pengetahuan yang BERAGAM

Di sekolah, guru adalah sumber dari informasi yang bertugas meneruskan informasi yang dimilikinya kepada siswa. Mereka adalah pemilik otoritas yang (kebanyakan) tidak suka jika otoritasnya ditantang dengan banyak pertanyaan-pertanyaan dari siswa. Tidak jarang kita melihat guru yang mencoret jawaban siswa yang sebenarnya benar, hanya karena tidak mengikuti cara yang diajarkan guru.

Bandingkan dengan apa yang dapat diperoleh melalui dunia maya. Ada banyak video dari para ahli yang dapat diunduh dengan mudah. Bahkan ada banyak jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan siswa yang mungkin tidak dapat dijawab oleh guru-guru di sekolah.

Mengerjakan dengan “kepala” vs menggunakan “alat bantu”

Ada suatu keyakinan dari guru-guru (dan orang tua) bahwa jika ingin menguasai sesuatu, maka siswa harus melakukannya sendiri tanpa alat bantu (misal kalkulator atau kamus). Lihat saja menjamurnya tempat-tempat les berhitung yang menuntut anak-anak dapat berhitung cepat di luar kepala.

Bedakan dengan apa yang sebenarnya terjadi di “dunia nyata” di mana kecerdasan seseorang tergantung dari kemampuannya menggunakan alat bantu untuk menyelesaikan pekerjaan yang dimilikinya.

Standar Penilaian vs Spesialisasi

Di sekolah, seluruh penilaian memiliki standarnya sendiri. Setiap siswa harus mengisi pilihan ganda, atau essay, atau apapun bentuk soal yang sama untuk seluruh siswa, di mana hasilnya merupakan nilai yang obyektif dan dinilai adil untuk seluruh siswa. Itulah sebabnya seluruh siswa perlu belajar hal yang sama. Sementara teknologi mendorong siswa untuk mencari tahu dan menguasai materi-materi yang hanya menjadi minatnya saja.

Penguasaan Materi vs Ledakan Pengetahuan

Di sekolah, siswa dituntut untuk menguasai pengetahuan yang ‘mungkin’ dibutuhkannya untuk kehidupan. Mereka dituntut untuk menghafal dan menguasai materi di luar kepala. Namun pengetahuan terus bertambah dan buku pelajaran akan makin tebal dan tebal seiring dengan pertambahan pengetahuan.

Dengan ledakan pengetahuan yang demikian pesat, manusia tidak mungkin mempelajari semua hal di sekolah yang akan berguna di kemudian hari. Siswa perlu belajar bagaimana caranya belajar sesuatu yang baru dan bagaimana menggali informasi dan sumber yang mereka perlukan.

 

Sekolah perlu menyesuaikan diri dengan kemajuan teknologi, namun yang perlu diingat adalah, transfer ilmu pengetahuan BUKANLAH tujuan utama PENDIDIKAN. Dalam era digital, di mana hubungan antar manusia merenggang dan life skill semakin menurun, tugas utama sekolah adalah MENCERDASKAN anak-anak agar mereka siap untuk menjadi MANUSIA SEUTUHnya.

Masalah kecerdasan sudah sering dibahas oleh banyak sumber. Anda pasti pernah mendengar mengenai kecerdasan majemuk (Multiple Intelligence). Seringkali pembahasan mengenai kecerdasan majemuk hanyalah seputar “anak-anak kita memiliki kecerdasan berbeda, jangan hanya menilai mereka dari nilai matematikanya saja”.

Sebenarnya BUKAN ITU inti dari KECERDASAN MAJEMUK. Kecerdasan majemuk adalah jenis-jenis kecerdasan yang HARUS dimiliki setiap orang untuk dapat bertahan hidup. Sebenarnya kecerdasan majemuk ini sudah ada dalam materi-materi pelajaran di sekolah, sayangnya, hanya berupa tuntutan akademis yang seringkali kehilangan maknanya.

Sebenarnya kecerdasan majemuk perlu dilatih agar siswa dapat:

  1. Kecerdasan logika agar siswa dapat memecahkan permasalahan dalam kehidupan dengan sistematis dan logis.
  2. Kecerdasan bahasa agar siswa dapat berkomunikasi dengan benar, dengan bahasa yang sopan dan pantas.
  3. Kecerdasan visual agar siswa dapat lebih peduli dan memperhatikan lingkungan sekitarnya.
  4. Kecerdasan musik agar siswa dapat lebih peka dengan ‘suara-suara alam’ dan ‘ritmik kehidupan’
  5. Kecerdasan olah tubuh agar siswa dapat menjaga keseimbangan, kesehatan dan kebugaran tubuhnya.
  6. Kecerdasan natural agar siswa dapat bertanggungjawab dan menjaga kelestarian lingkungan hidup.
  7. Kecedasan Interpersonal agar siswa dapat menguasai diri, berdamai dengan dirinya dan menerima dirinya apa adanya.
  8. Kecerdasan Intrapersonal agar siswa dapat menjalin hubungan / relasi yang sehat dengan setiap orang yang ada di sekitarnya.
  9. Kecerdasan eksistensial agar siswa dapat menyadari keberadaan dirinya merupakan anugerah dari Sang Pencipta dan mensyukuri setiap hal yang dia miliki dalam hidup

Bukankah semua hal itu penting dalam kehidupan? Bukankah itu seharusnya tujuan dari “pergi ke sekolah setiap hari”, agar anak-anak siap menghadapi “dunia luar”?

Sekolah bukanlah sekedar tempat untuk transfer ilmu! Jika memang begitu, maka sekolah sudah KALAH TELAK dari teknologi di era digital ini. Sekolah adalah tempat di mana siswa belajar menjadi cerdas dalam arti siap menjadi MANUSIA yang SEUTUHnya.

Mendidik bukanlah sekedar melakukan transfer ilmu! Jika memang begitu, maka guru sudah KALAH TELAK dengan teknologi di era digital ini. Pendidik adalah mereka dengan perencanaan matang yang menerapkan teori prinsip mengajar dan teori perkembangan anak untuk menyampaikan materi ajar dan menguasai kelas yang bertujuan mengubah PERILAKU anak didik secara positif (Levin dan Nolan).

Ini adalah era digital! Sekolah adalah tempat kedua di mana anak-anak menghabiskan sebagian besar waktunya. Jika sekolah tidak menggunakan waktu yang banyak itu untuk “mengubahkan perilaku” (dengan kata lain membina karakter) anak, maka sekolah akan menjadi suatu tempat yang tidak berguna.

 

Nantikan tulisan berikutnya: Mengajar Sekolah Minggu di Era Digital

Membesarkan Anak di Era Digital

Era digital tidak hanya mempengaruhi anak-anak, tapi juga orang dewasa. Itu sebabnya tidak hanya ada perbedaan antara “anak-anak jaman dahulu” dan “anak-anak sekarang”, tapi juga ada perbedaan antara “orang tua jaman dahulu” dan orang tua sekarang”, juga “guru-guru jaman dahulu” dan “guru-guru sekarang”. Semua orang terkena imbas dari majunya teknologi yang demikian pesat.

Orang tua di era digital menggunakan teknologi seperti TV, smartphone, komputer, dan tablet untuk “mengelola” kehidupan keluarga dan untuk mengasuh anak-anak mereka. Ketika anak-anak tumbuh dewasa, orang tua dan anak-anak memiliki jumlah tatap muka yang sangat sedikit, bahkan mereka memiliki kualitas hubungan yang lebih rendah dibanding era sebelumnya.

Berikut adalah beberapa hal yang harus diketahui orang tua terlebih dahulu: Continue reading

Anak-anak di Era Digital

“Anak-anak sekarang berbeda dengan anak-anak dahulu”

Tahukah Anda apa yang mendasari perbedaan yang terjadi? Mereka (dan juga kita saat ini) hidup di jaman digital. Seandainya kita hidup sejak kecil di jaman digital, dapat dipastikan bahwa kita akan menjadi sama seperti ‘anak-anak sekarang’.

Era digital adalah suatu masa di mana perkembangan teknologi demikian pesat dan pengetahuan dapat diperoleh dengan mudah baik dalam bidang ekonomi maupun sosial.

Anak-anak yang tumbuh pada era digital ini memiliki banyak pengalaman belajar dan bermain dengan teknologi baru seperti iPod, iPad, telepon pintar, facebook, dan banyak lagi. Tapi, hal yang mengkhawatirkan adalah, mereka kehilangan banyak jenis pembelajaran yang lain, interaksi fisik, dan kecerdasan emosi.

Dalam artikel kali ini kita akan membahas apa yang terjadi dengan anak-anak ini (dalam artikel berikutnya, kita akan membahas mengenai bagaimana mengajar anak-anak ini):

1. Anak-anak tidak lagi suka main di luar

Hopscotch

Anak-anak lebih suka main di dalam rumah sambil memegang peralatan elektronik mereka, duduk di depan komputer atau video games. Negara-negara Barat sudah menyadari hal ini dan pemerintah mereka berinvestasi begitu besar agar guru-guru dapat memotivasi siswa mereka untuk bermain di luar seperti petak umpet, hopscotch (permainan jingkat).

Ada banyak keuntungan jika anak mau main keluar dan menggunakan fisiknya. Mereka akan semakin sehat, lebih bahagia dan tidak akan mengalami kegemukan.

Di Indonesia, kita melihat masih banyak anak-anak di daerah pinggiran yang bermain keluar. Mereka bermain sepeda dan berlarian di jalan. Berbeda dengan “anak-anak kota” yang dibelikan gadget oleh orang tuanya.

2. Anak-anak tidak lagi belajar dengan Interaksi tatap muka

Bagaimana seorang bayi belajar berekspresi atau menunjukkan emosinya? Bagaimana mereka belajar bicara dan bahasa? Mereka melakukannya dengan mempelajari ekspresi wajah orang tuanya dan mereka mulai belajar menjadi mahluk sosial ketika mereka masuk PAUD dan sekolah.

Tapi apa yang terjadi sekarang?

Orang tua di era digital sibuk dengan peralatan elektroniknya dan tidak dapat diganggu. Mereka bahkan tidak ada waktu untuk melihat, tersenyum atau bercanda dengan anak-anak mereka sendiri! Lihatlah keluarga di restoran dan Anda akan melihat apa yang kami maksud.

Peringatan ini telah diberikan oleh banyak dokter anak. Salah satunya, Dr. Jenny Radesky, melakukan studi pada 55 kelompok orangtua ketika mereka makan di restoran cepat saji. Dia dan timnya menghabiskan musim semi melakukan observasi ini dan hampir semua orang tua perlu diingatkan untuk menjauhkan smartphone mereka dan memberikan perhatian pada anak-anak mereka. Hal ini sangat penting untuk perkembangan anak-anak.

3. Hubungan Orang tua-Anak Menjadi Renggang

Orang tua digital menganggap sepele peran orang tua dan ini tidak adil bagi anak-anak. Penggunaan peralatan elektronik memiliki dampak sangat buruk terhadap interaksi orang tua dengan anak. Orang tua beranggapan bahwa alat elektronik dapat menjadi substitusi mereka saat anak-anak butuh interaksi dan ini tidak baik. Selain itu, orang tua juga menjadi mudah marah ketika kegiatannya dengan peralatan elektronik mereka diinterupsi.

Dr. Wendy Sue Swanson, seorang dokter anak dari Rumah Sakit anak Seattle menganjurkan pada orang tua untuk membuat batasan dengan peralatan digital sehingga peran orang tua dapat dilakukan dengan baik. Demikian juga anak-anak harus dijauhkan dari peralatan elektronik yang membuat mereka lebih ‘menyayangi’ peralatan itu dibanding orang tua mereka.

4. Kemampuan Membaca Anak terpengaruh

Memang tidak banyak penelitian mengenai hal ini, tapi sebuah studi dilakukan oleh West Chester University menunjukkan bahwa anak yang membaca buku dengan kertas lebih memiliki pemahaman yang baik dari apa yang dibaca dibandingkan dengan anak yang membaca e-book. Anak yang membaca e-book cenderung membaca dengan melompat-lompat dan mudah teralihkan perhatiannya pada popups atau aplikasi lain.

5. Anak-anak tidak pernah bermain permainan papan (board games)

Hampir sepanjang waktu anak-anak di era digital bermain dengan games online. Apa yang terjadi dengan permainan papan (halma, monopoli, catur)? Ada banyak keuntungan ketika orang tua dan anak-anak memainkan permainan papan bersama:

  • Anak-anak belajar berhitung, matematika, membaca dan kosakata baru.
  • Orangtua dapat memiliki keterikatan dengan anak-anak
  • Anak belajar mengenai giliran, menerima kekalahan dan mengatasi kemenangan
  • Anak-anak akan lebih percaya diri, dan penghargaan pada dirinya meningkat
  • Anak-anak diajar mengenai kompetisi yang positif
  • Konsentrasi anak terlatih
  • Meningkatkan fokus dan perhatian anak

Walaupun banyak permainan dan aplikasi online di smarthone yang baik untuk membangun dan mengajar anak, tapi tidak akan pernah bisa menggantikan interaksi manusia dengan manusia.

6. Anak-anak tidak tahu apa artinya persahabatan yang sejati

Ketika kita tumbuh, kita memiliki teman-teman, teman-teman yang nyata dan sebenarnya. Teman-teman virtual tidak benar-benar ada. Maksudnya, mereka ada tapi tidak terlihat ketika kita berkomunikasi. Kita tidak benar-benar mengenal kebanyakan dari teman-teman yang ada di facebook. Sebagian besar dari mereka hanya temannya teman yang kebetulan mengadd kita menjadi teman. Berkoneksi itu bagus dan hari ini, seorang remaja rata-rata mengirimkan 3000 pesan tertulis setiap bulannya.

TAPI… kelihatannya konsep pertemanan dan kedekatan menjadi berubah drastis dan hal ini kemudian akan sangat mempengaruhi HUBUNGAN. Penelitian di UCLA menunjukkan bahwa keterikatan digital sangat lemah, dibanding dengan interaksi tatap muka.

7. Anak-anak kehilangan kreativitas mereka

Trevor Baylis

Trevor Baylis, penemu Wind-Up Radio mengatakan bahwa ia takut anak-anak sekarang kehilangan kreativitasnya karena menghabiskan banyak waktunya di depan layar daripada mencoba segala sesuatu yang baru dengan tangan mereka.  Dia berkata mengenai merangkai / merakit sesuatu seperti moel aeroplane, dst. Anak-anak di era digital tidak pernah lagi memainkan permainan merakit seperti ini. Segala sesuatu sudah tersedia untuk mereka langsung gunakan.

8. Anak-anak tidak belajar EMPATI

Bertoleransi, memperhatikan dan mengendalikan emosi adalah life skill yang harus dikuasai dengan baik. Tapi anak-anak di era digital tidak mempelajari life skill ini sama sekali. Kita tidak bisa berempati dengan peralatan elektronik (setidaknya belum bisa). Cara terbaik untuk mempelajari life skill ini adalah bermain dengan anak-anak lain, dan belajar berbagi, menunggu giliran dan memberi. Apakah ada aplikasi untuk mempelajari itu?

9. Anak-anak tidak belajar mengenai nilai dan sikap

Kurangnya interaksi sosial yang sebenarnya dengan orang tua dan teman berarti mereka makin sedikit belajar tentang nilai-nilai dasar kehidupan seperti toleransi, kebaikan, kejujuran, kerajinan dan rasa hormat. Peralatan Elektronik baik untuk aktivitas belajar tapi hubungan orangtua-anak menjadi sangat lemah.

10. Anak-anak kurang tidur

Anak-anak di era digital ‘kehilangan waktu’ ketika mereka online. Mereka tidak ingat waktu , seolah-olah waktu terbuang begitu saja dengan percuma. Beda ketika mereka melakukan pekerjaan rumah tangga. Hal ini juga akan mempengaruhi mood mereka dan mereka menjadi mudah marah ketika diminta mematikan peralatan elektronik. Salah satu aspek yang paling serius adalah pengaruhnya di sekolah pada keesokan harinya.

11. Anak-anak kehilangan kemampuan logika dan bahasa

Anak-anak era digital memiliki keahlian luar biasa dalam seni dan hiburan, tapi kemampuan logika dan bahasa mereka tidak terlatih sama sekali. Mereka tidak dapat memahami perlunya berusaha untuk mendapatkan hasil, juga tidak dapat menemukan hubungan sebab akibat dari suatu permasalahan kehidupan yang terjadi.

Pertemanan secara virtual membuat mereka tidak dapat membedakan bagaimana cara berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau seumuran dengan mereka. Sementara orang tua atau guru di era digital merasa kehabisan waktu untuk mengajari hal semacam itu.

12. Anak-anak kecanduan online

Anak-anak di era digital seolah-olah tidak dapat hidup jika mereka tidak online. Bagaimana PR dapat dikerjakan tanpa melihat google? Atau bagaimana mengerjakan PR jika tidak bertanya pada teman lewat Whatsapp. Atau bagaimana menghabiskan waktu jika tidak memainkan permainan online.

Orang tua perlu berhati-hati dengan kecanduan ini. Mereka (orang tua) perlu menjadi teladan dan menjaga agar aktivitas online dan “tradisional” tetap terjaga dengan baik.

Ada beberapa tips untuk menjalankan keseimbangan ni:

  • Gunakan video call BERSAMA-SAMA untuk menghubungi nenek atau kakek
  • Mainkan video games BERSAMA-SAMA
  • Negosiasikan waktu istirahat BERSAMA antara orang tua dan anak dari peralatan elektronik (matikan semua peralatan elektronik atau simpan di tempat terpisah)
  • Main di luar ruangan BERSAMA-SAMA.

 

Era Digital tak dapat dihentikan dan peralatan digital adalah alat yang sangat baik untuk belajar dan hiburan. TAPI mereka perlu digunakan dengan HIKMAT dan KEHATI-HATIAN dan tidak untuk menggantikan interaksi tatap muka.

Berikutnya kita akan membahas:

  • Bagaimana menjadi orang tua di era digital
  • Bagaimana menjadi guru di era digital

Jadi, SUBSCRIBE blog ini yaa…!

 

diolah dari berbagai sumber

 

 

Bagaimana MERINTIS Sekolah Minggu

Apakah di gereja Anda ada pelayanan Sekolah Minggu? Seringkali Sekolah Minggu diadakan bersamaan waktunya dengan ibadah orang dewasa, di area yang terpisah. Kita semua menyadari bahwa anak-anak, remaja dan bahkan orang dewasa belajar banyak tentang Tuhan dengan mempelajari Firman-Nya (Alkitab). Hal inilah yang melatar belakangi munculnya “Sekolah Minggu” (atau jaman sekarang lebih sering disebut “Pelayanan Anak”).
Jika Anda begitu ingin memulai Pelayanan Anak ini, Anda dapat memulainya hanya dengan tempat pertemuan, Alkitab, dan beberapa anak (tentu saja, Anda juga membutuhkan tuntunan Roh Kudus!). Tapi kemudian, Anda akan menyadari bahwa Anda membutuhkan pemikiran lebih mendalam mengenai ‘apa yang ingin Anda capai’, bagaimana Anda ingin mencapainya, apa yang akan Anda ajarkan dan siapa yang akan membantu Anda.

Atau dengan kata lain, Anda perlu memberi perhatian pada beberapa hal di bawah ini:

TUJUAN

Apa tujuan dari pelayanan Anda? Apa yang Anda coba raih? Apa yang sedang Anda coba penuhi?

  • Apakah Anda mencoba membagikan Kabar Baik dari Injil?
  • Apakah Anda mencoba memuridkan orang yang sudah percaya?
  • Apakah Anda mencoba menyediakan tempat penitipan anak, hingga orang dewasa dapat melayani dan beribadah dengan lebih lancar?
  • Apakah Anda hanya sekedar mengumpulkan sebanyak mungkin anak untuk menghibur mereka?

PRIORITAS

Apa yang perlu Anda lakukan terlebih dahulu? Hal apa yang PALING penting?

  • Apa yang harus dilakukan, dengan urutan bagaimana, untuk hal yang paling penting ini?
  • Apa yang harus dilakukan kemudian?
  • dan selanjutnya, dan selanjutnya…

RENCANA

Suatu ringkasan mengenai BAGAIMANA Anda akan mencapai tujuan Anda dan melakukan prioritas Anda

  • Pikirkan mengenai pertanyaan-pertanyaan di bawah ini:
    • Siapa yang akan menjadi murid-murid Anda?
    • Siapa saja yang akan menjadi guru, administrator, dan penolong?
    • Pelayanan seperti apa yang Anda harapkan?
    • Apa saja yang akan Anda pelajari untuk melakukan tugas dan tanggungjawab ini?
    • Dimana dan kapan Anda akan melakukan pertemuan?
    • Bagaimana Anda akan membayar pengeluaran yang mungkin terjadi?

PASTOR / PENDETA

Dalam setiap organisasi gereja, ada sebuah hierarki otoritas

  • Diskusikan ide dan jawaban-jawaban Anda akan pertanyaan di atas dengan Pendeta Anda dan / atau pemimpin gereja lain yang terkait
  • Kepada siapa Anda akan mempertanggungjawabkan peran pelayanan yang baru ini
  • Untuk siapa Anda bertanggungjawab dalam peran pelayanan yang baru ini

JALUR


Apa yang murid-murid perlukan? Apa yang akan Anda pelajari?

  • Berapa rentang usia murid-murid Anda
  • Apakah mereka orang-orang percaya?
  • Apa yang sudah mereka tahu tentang Tuhan?
  • Berapa banyak mereka tahu tentang Firman Tuhan(bersambung)

ps: berikutnya kita akan membahas satu persatu mengenai Tujuan, Prioritas, Rencana, Pastor / Pendeta dan Jalur ini… Jadi.. SUBSCRIBE ya!!

 

diolah dari berbagai sumber